ADBM 12(03)

September 2, 2008

PENGUMUMAN:

SETERUSNYA DILANJUTKAN DI http://adbmcadangan.wordpress.com

(dd)

 

Jineman Glatik Glinding (mp3): 1jineman_glathik_glinding_slmy

 

ADBM 12(02)

September 1, 2008

“Ah,” sahut Kiai Gringsing perlahan-lahan. “Sudahlah. Jangan melelahkan diri sendiri, marilah duduk di sini. Kita lihat pertunjukan itu.”

“Kau aneh Kiai,” berkata Sumangkar. “Pertunjukan itu terlalu menjemukan bagiku. Apakah tidak demikian bagimu?”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Ia melihat Sumangkar berdiri tegak seperti sebatang tonggak yang kokoh. Karena itu maka perlahan-lahan orang tua itupun berdiri. Banyak hal yang dapat terjadi menilik sikap Sumangkar itu.

“Apakah yang akan kau lakukan atas permainan yang menjemukan itu?” bertanya Ki Tanu Metir.

Sumangkar terdiam sesaat. Sekali lagi ia berpaling, dan sekali lagi ia melihat pasukan Jipang yang terdorong mundur beberapa langkah.

“Kiai Gringsing,” berkata Sumangkar, “aku adalah seorang bawahan dari Macan Kepatihan. Apakah aku akan dapat berdiam diri melihat pertempuran itu? Ternyata Angger Untara memliliki kecemerlangan rencana untuk menghadapi Macan Kepatihan. Sebelum ini aku mengagumi ketangguhan dan ketangkasan pasukan Jipang di bawah pimpinan Tohpati. Namun ketika akan melihat cara yang ditempuh dan perhitungan-perhitungan yang matang dari Angger Untara, maka aku benar-benar menundukkan kepala untuk itu.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk kepalanya. Sahutnya, “Lalu, bagaimana sekarang?”

“Aku harus ikut dalam permainan itu, Kiai berkeberatan?”

“O, tidak. Tentu tidak. Adalah menjadi kewajibanmu untuk melakukannya. Bukankah kau seorang prajurit?”

Sumangkar menjadi bimbang mendengar jawaban itu. Ia tidak dapat mengerti kenapa Kiai Gringsing seakan-akan membiarkan untuk berbuat sesuatu atas pertempuran itu. Namun Sumangkar bukan anak-anak yang mudah terpedaya oleh ucapan-ucapan yang meragukan. Karena itu, maka ia tidak akan dapat mempercayainya, seandainya Kiai Gringsing dengan sukarela membiarkannya masuk ke dalam arena. Meskipun demikian katanya, “Terima kasih Kiai. Agaknya Kiai akan bersabar menunggu aku kembali dari arena.”

“Nanti dulu, Adi,” sahut Ki Tanu Metir.

Sumangkar tertegun sejenak. Tetapi ia sebelumnya telah memperhitungkannya, bahwa pekerjaannya akan bertambah berat. Ia tidak akan begitu saja dapat hadir di dalam peperangan itu, apalagi memusnahkan Untara, selagi Kiai Gringsing masih berada di tempat itu.

“Jangan tergesa-gesa.”

“Waktuku hanya sedikit Kakang. Lihatlah, pasukan Jipang telah terdesak jauh ke belakang garis benturan antara kedua gelar itu.”

“Belum Adi. Mereka sekarang berada pada garis yang terjadi pada saat kedua pasukan itu berbenturan. Kau hanya melihat pasukan Jipang terus menerus mundur. Tetapi aku melihat sejak pertempuran itu terjadi. Mula-mula pasukan Pajang dan anak-anak muda Sangkal Putunglah yang terdesak sampai jauh ke belakang garis itu. Sekarang mereka mendesak maju. Namun belum terlalu jauh melampaui garis benturan itu?

“O, agaknya kau lebih dahulu sampai di sini Kiai?”

“Aku melihat sejak peperangan itu mulai. Sejak pasukan Jipang muncul dari balik pepohonan hutan dangan panji-panji kebesaran, rontek dan umbul-umbul yang megah itu. Aku melihat pasukan Pajang  dan anak-anak Sangkal Putung datang dari arah yang lain dengan ketiga panji-panji yang mereka agung-agungkan. Dan aku melihat bagaimana mereka berbenturan.”

“Hem,” Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kalau demikian, kau melihat kedatanganku pula Kakang.”

“Ya, aku melihat kau berdiri di sini. Sekali-sekali kau meloncat naik ke atas tanah padas itu.  Sekali kau meloncat turun. Aku tidak akan mendekatimu, kalau aku tidak tertarik pada tongkat yang kau bawa itu. Tongkat itu mirip benar dengan tongkat Macan Kepatihan.”

Sumangkar mengangguk-angukkan kepalanya, “Ya tongkat ini memang mirip dengan tongkat Angger Tohpati.”

“Apakah Tohpati membagikan tongkat semacam itu kepada para prajuritnya?”

Sumangkar menarik alisnya. Namun demikian ia tersenyum. Jawabnya, “Pertanyaanmu membingungkan Kiai. Baiklah aku mencoba menjawabnya. Tongkat ini adalah ciri dari perguruan Kedung Jati. Aku kira Kiai sudah mengetahuinya pula.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya,” sahutnya. “Macan Kepatihan adalah murid Mantahun. Saudara seperguruanmu.”

“Tepat. Bukanlah wajar kalau aku membantunya? Selain paman gurunya, aku adalah prajurit Jipang pula.”

“Sudah aku katakan, bahwa adalah kewajibanmu membantu Angger Tohpati. Namun aku ingin memberitahukan pula kepadamu. Kalau Tohpati itu murid kakak seperguruanmu, maka Untara adalah kakak dari muridku.”

Sumangkar menarik nafas. Ia melihat kemungkinan yang ada di hadapannya. Namun ia masih tersenyum, katanya, “Kalimat yang disilang-balikkan. Membingungkan Kiai.”

“Tidak terlalu sulit,” jawab Kiai Gringsing sambil tersenyum pula.

“Angger Tohpati adalah murid dari kakak seperguruanku. Jelas?”

“Ya, aku tahu.”

“Kalau demikian, maka kewajibanmu atas Angger Tohpati tidak akan jauh berbeda dari kewajibanku atas Angger Untara,” berkata Kiai Gringsing pula. “Namun aku tetap berdiam diri melihat angger Untara terdesak dengan sengitnya, sebelum laskar cadangan itu datang.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Semuanya sudah pasti baginya. Tak ada jalan lain. Karena itu, maka lebih baik segala sesuatunya segera terjadi daripada masih harus menunggu perkembangan yang kecil sekali kemungkinannya.

Karena itu maka katanya, “Ada satu perbedaan Kiai. Aku prajurit Jipang. Apakah Kiai prajurit Pajang atau laskar Sangkal Putung? Seandainya demikian, maka kita berbeda pendirian. Mungkin Kiai dapat berdiam diri terhadap Untara, tetapi aku tidak akan dapat berbuat demikian. Aku harus menyingkirkan Angger Untara.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditatapnya wajah Sumangkar dengan tajamnya, namun sekali-sekali ia berpaling memandangi arena pertempuran pula. Ia tahu benar bahwa Sumangkar tidak akan dapat dicegahnya dengan kata-kata. Tetapi ia masih ingin mencoba untuk memperpanjang waktu sehingga Sumangkar akan terlambat. Kiai Gringsing itupun melihat pula, bahwa pasukang Jipang sudah semakin lemah dan terus menerus terdesak mundur.

Maka katanya sambil tersenyum, “Jangan begitu Adi. Jangan berkata sekeras itu. Bukankah kita, yang tua-tua ini sudah tidak pantas ikut bermain-main dengan senjata? Sebaiknya kita duduk saja di sini sambil melihat kalau Adi setuju, marilah kita bertaruh, siapakah yang akan menang.”

“Apakah yang akan kita pertaruhkan?” bertanya Sumang­kar. “Apakah Kiai, mempunyai barang-barang berharga?”

“Apa saja dapat kita pertaruhkan,” sahut Kiai Gringsing, “ikat kepala, kain pandjang kita, atau timang kita?”

“Bagaimana kalau aku usulkan Kiai?” berkata Sumangkar.

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum sambil menjawab, “Boleh. Barangkali Adi mempunyai usul yang baik.”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Ta­ruhan kita adalah anak-anak muda itu. Macan Kepatihn dan Un­tara.

“He?” bertanya Kiai Gringsing sambil mengusap keningnya, “bagaimana mungkin? Kalau kita mengadu ayam, maka mereka adalah ayam jantan kita masing-masing.”

“Permainannyalah yang harus kita tentukan,” potong Sumangkar.

“Oh,” Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya.

Su­mangkar sudah tidak akan dapat diperlunak lagi. Ternyata orang itu berkata, “Marilah kita yang berlomba, bukan hanya sekedar membuat taruhan.”

“Apakah. perlombaan itu?”

“Kita berlomba lari sampai ke arena,” ajak Sumangkar.

Kiai Gringsing menggeleng. “Aku bukan seorang pelari. Tetapi kalau Adi akan berlari, mungkin aku akan mencoba me­nangkanp ujung kainmu.”

Orang-orang tua itu sudah sampaj pada kemungkinan terakhir, menyelesaikan soal mereka dengan cara yang tak mereka kehendaki. Tetapi mereka tidak akan dapat berbuat lain. Mereka ternyata telah berada dalam puncak kemungkinan itu.

“Kiai Gringsing,” berkata Sumangkar kemudian, “Kiai telah pernah melihat aku bermain-main melawan Ki Tambak Wadi, tetapi aku belum pernah melihat, bagaimana Kiai melontarkan kaki. Karena itu, maafkan aku. Aku akan mulai dengan usulku. Terserahlah kepada Kiai, apakah Kiai akan turut serta berlomba lari atau tidak.”

Sumangkar tidak menunggu jawaban lagi. Segera ia melontar surut sambil memutar tubuhnya. Ia mengharap Kiai Gringsing akan meloncat mencegatnyat. Tetapi sumangkar menjadi kecewa, Kiai Gringsing belum beranjak dari tempatnya, katanya, “Apa­kah aka harus mengejarmu?”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Sambil menahan gelora di dadanya ia bertanya, “Kenapa Kiai tidak mengejar aku dan menangkap kainku seperti kata Kiai.”

“Aku akan mencobanya kalau kau betul-betul telah mulai dengan lomba itu.”

“Hem,” desis Sumangkar. Ia menjadi jengkel melihat ketenangan Kiai Gringsing. “Kiai yakin benar akan perhitungan Kiai? Aku pasti tidak akan berlari terus meninggalkan Kiai dengan membiarkan diriku membalakangi Kiai. Begitu? Aku tidak akan membiarkan punggungku tersentuh oleh tangan Kiai. Karena itu Kiai tidak perlu mengejar aku. Tetapi bagaimana seandainya aku membuat perhitungan pula, bahwa Kiai tidak akan mengejar dan mencegat aku, lalu aku benar-benar berlari ke arena yang semakin parah bagi Jipang itu?”

“Adi,” berkata Kiai Gringsing. “Sebenarnya apa yang akan kita lakukan itu tidak akan ada gunanya. Seandainya kita membuat permainan sendiri, maka permainan kita tidak akan mempengaruhi pertempuran itu. Betapapun lemahnya satu di antara kita, tetapi kita pasti akan memerlukan waktu. Dan lihatlah kini. Betapa laskar Jipang telah terdesak semakin jauh.”

Dada Sumangkar bergetar mendengar kata-kata Kiai Gringsing itu. Ia dapat mengerti dan ia sependapat pula. Menurut perhitungan, seandainya Kiai Gringsing memiliki ilmu yang tidak terpaut banyak daripadanya, maka waktu yang diperlukan pasti akan lebih banyak dari waktu yang diperlukan oleh pasukan Pajang untuk memecah barisan Macan Kepatihan. Tetapi kadang-kadang perasaan seseorang tidak sejalan dengan pikirannya. Meskipun Sumangkar menyadarinya, namun apakah ia akan duduk diam dan menonton pasukan Jipang terpecah belah tanpa berbuat sesuatu? Dan benarkah bahwa Kiai Gringsing memiliki ilmu yang cukup baik untuk bertahan cukup lama.

Akhirnya Sumangkar tidak lagi ingin membuat perhitungan-perhitungan. Tetapi ia harus berbuat sesuatu. Karena itu maka katanya, “Kiai, aku kagum melihat sikap dan ketenangan Kiai. Tetapi aku tidak akan terpengaruh oleh apapun. Aku tetap dalam pendirianku. Angger Untara harus dilenyapkan supaya prajurit Pajang menjadi kehilangan pegangan, dan bertempur tanpa ikatan.”

“Jangan  supaya aku tidak berusaha meniadakan Macan Kepatihan pula.”

“Terserah kepadamu. Aku tetap akan melakukan rencanaku.”

Kiai Gringsing menarik nafas. Setapak ia maju, ia tidak akan membiarkan Sumangkar berlari ke arena, dan langsung membunuh Untara.

Melihat Kiai Gringsing bergerak, Sumangkar tiba-tiba merenggangkan kakinya. Tongkatnya digenggamnya dengan tangan kanannya dan sinar matanya tajam hinggap di wajah Kiai Gringsing.

Kiai Gringsing kini sudah tidak tersenyum lagi. Ia pernah melihat Sumangkar bertempur melawan Tambak Wedi. Tetapi Sumangkar tidak mempergunakan senjatanya yang mengerikan itu. Kini senjata itu berada dalam genggamannya. Karena itu maka nilai orang itu pasti akan berbeda. Sumangkar kali ini pasti akan berada di puncak kemampuannya.

Kedua orang tua itu, Kiai Gringsing dan Sumangkar kini telah berdiri berhadapan. Keduanya adalah orang-orang yang berfikir bening dan berilmu hampir mumpuni. Namun kini mereka terpaksa berdiri dalam kesiagaan yang paling tinggi.

“Adi Sumangkar, apakah kita orang tua-tua inipun terpaksa tidak tahu diri dan saling bertengkar seperti anak-anak?” bertanya Kiai Gringsing.

“Aku tidak ingin itu terjadi Kiai, bukankah aku hanya ingin menyingkirkan Untara dari peperangan itu,” sahut Sumangkar.

“Baiklah. Aku tidak mempunyai pilihan lain. Bukankah sudah aku katakan, bahwa Untara adalah kakak dari murid perguruanku?”

“Terserah kepada Kiai. Aku sudah siap.”

Kiai Gringsing kemudian menarik ujung kainnya dan diselipkan di ikat pinggangnya. Kain itu adalah kain gringsing. Perlahan-lahan ia mengambil sesuatu dari bawah bajunya, melingkar di perutnya.

“Senjata Sumangkar adalah senjata pilihan,” desisnya di dalam hati. “Aku harus berhati-hati.”

Tiba-tiba di tangan Kiai Gringsing itupun tergenggam sebuah cambuk yang pendek namun berjuntai panjang. Itulah senjatanya yang paling berbahaya.

Sumangkar mengerutkan keningnya melihat senjata itu. Ia mencoba mengingat-ingat. Perguruan manakah yang mempunyai ciri khusus sebuah cambuk yang berjuntai panjang, kira-kira satu setengah kali panjang pedang biasa. Tetapi Sumangkar belum berhasil menemukannya.

Buku 12(01)

September 1, 2008

BETAPAPUN kebimbangan bergelora di dalam batinnya, namun akhirnya Sumangkar itu tidak juga dapat membiarkan kekalahan demi kekalahan melanda pasukan murid kakak seperguruannya. Karema itu berkali-kali terdengar ia berdesah, kemudian menggeram. Wajahnya semakin lama menjadi semakin tegang. Dan orang tua itu menjadi semakin kuat menggenggam senjatanya.

Ketika ia mendengar orang-orang Pajang bersorak, seakan-akan dirinyalah yang disorakinya. Seorang tua yang tidak berarti dan tidak tahu diri.

Di dalam arena pertempuran itu sendiri, Sanakeling terpaksa melihat kenyataan, bahwa adik Untara yang bernama Agung Sedayu itu benar-benar seorang anak muda yang tangguh. Anak muda yang lincah dan cekatan. Geraknya kadang-kadang terasa aneh dan membingungkan. Sebenarnya Agung Sedayu mempunyai cara yang khusus dalam olah pertempuran. la tidak saja mempergunakan unsure-unsur yang dipelajarimja dari gurunya, dari ajahnya, dari kakak­nya, dan dari pengalamannya yang sedikit itu, tetapi Agung Sedayu telah berhasil membuat cara-cara dan unsure-unsur tersendiri, karena ketekunannya membuat gambar-gambar di atas rontal.

Sehingga sanakeling yang dengan tatag berani melawan Wi­dura kini terpaksa bertempur dengan memeras segenap ilmu yang dimilikinya.

Di induk pasukan Tohpati pun mengalami banyak kesulitan. Apalagi setelah Untara dapat melepaskan segenap perhatiannya atas sayap kanannya yang agak mengalami kesulitan. Kini sayap itu telah menjadi mantap kembali. Karena itu ia tinggal memusatkan perhatiannya kepada Tohpati dan induk pasukannya. Namun Sonya, di sisi kiri dan Swandaru di sisi kanan, ternyata banyak membantunya, memperingan tekanan-tekanan yang Iangsung ke pusat pasukannya.

Apalagi di sayap kiri, Widura telah mencoba mempengaruhi seluruh medan lewat sayapnya. Dikerahkannya kekuatan sayapnya untuk mendesak semakin maju. Kemenangan yang dicapainya diharapkannya dapat langsung menimbulkan pengaruh pada induk pasukan lawan dan lebih-lebih bagi Tohpati sendiri. Menurut perhitungan Widura, kini telah sampai saatnya, Tohpati mengalami kesulitan yang sama seperti yang dialami oleh Untara di permulaan peperangan ini.

Sekali-sekali terdengar di induk pasukan, Tohpati menggeram sam­bil menggeretakkan giginya. Kemarahannya telah memuncak sampai ke ujuung ubun-ubunnya. Tetapi ia tidak mau hangus terbakar oleh kemarahannya. Karena itu, ia masih mempergunakan segenap kesadaran serta perhitungan. la harus bertanan sampai matahari terbenam meskipun seandainya harus menarik mundur pasukannya benerapa langkah untuk beberapa kali. Tetapi ia harus memelihara agar pasukannya tidak terpecah. Sebab dengan demikian, maka akan hilanglah gairah segenap anak buahnya. Hati mereka akan berkeriput sekecil nati tikus. Apapun yang akan dilakukan besok, apabila hati anak buahnya masih tetap terpelihara seperti hari ini, maka kemungkinan-kemungkinan lain masih akan terjadi.

Namun ia masih harus menghadapi kenyataan. Pasukan Pajang dan Sangkal Putung mendesaknya seperti prahara.

Sumangkar yang melihat kekalahan-kekalahan yang semakin lama semakin sering, menjadi kehilangan segenap keragu-raguannya. Bara yang menyala di dalam dadanya terasa menjadi semakin panas. Dan tiba-tiba terdengar ia bergumam, “Tahanlah sesaat ngger, mudah-mudahan aku akan dapat membantumu.”

Kata-kata Sumangkar itu, seakan-akan merupakan sebuah perintah bagi dirinya sendiri. Tiba-tiba terasa darahnya bergolak. Usianya yang sudah lanjut itu sama sekali tidak berpengaruh atas ilmu dan ketangkasannya. Bahkan semakin tua ilmunya menjadi semakin masak, dan segala geraknya menjadi semakin mapan.

Demikianlah dengan sigapnya Sumangkar meloncat turun dari bongkahan tanah padas. Kemudian diamat-amatinya tongkatnya sambil bergumam kepada diri sendiri, “Masa itu datang kembali.” Dan kepada tongkatnya ia berkata, “Kau sudah terlalu lama beristi­ratat. Marilah kita bekerja kembali. Aku tidak akan membawamu bertempur melawan kelinci-kelinci yang tidak berdaya dari sangkal Putung dan Pajang. Pekerjaanmu hanya mempengaruhi tekad dan gairah peperangan itu. Tolonglah aku, karena aku terpaksa, menyingkirkan angger Untara.”

Sumangkar itu kemudian mengangkat wajahnya. Di berbagai tempat dilekukan-lekukan tanah yang dalam, masih dilihatnya air yang tergenang sisa hujan semalam, meskipun karena panas yang terik di sana-sini tampak debu yang berhamburan.

“Maafkan aku angger Untara,” desisnya, “aku terpaksa melakukannya.”

Sumangkar itu kemudian menggigit bibirnya, seolah-olah ia sedang mengusir parasaan lain yang mengganggunya. Kemudian dengan dada tengadah ia melangkah menuju kearena peperangan.

Namun tiba-tiba langkah orang tua itu terhenti. Lamat-lamat ia men­dengar orang memanggilnya. Perlahan-lahan seperti sebuah bisikan.

“Adi Sumangkar. Adi, berhentilah sebentar.”

Langkah sumangkar tertegun. Dipalingkannya wajahnya. Dan ia benar-benar terkejut ketika dilihatnya seseorang duduk di bawah sebuah gerumbul kecil di samping bongkahan tanah padas tempatnya berdiri menyaksikan peperangan itu.

Tetapi Sumangkar itupun telah menyimpan pengalaman yang banyak sekali di dalam dirinya, sehingga sesaat kemudian ia sudah berhasil menguasai dirinya. Bahkan sambil tersenyum ia menjawab, “Ah. Aku terkejut mendengar sapa Ki Sanak.”

Orang itu mengangguk. “Maafkan kalau aku mengejutkanmu. Bukan maksudku berbuat demikian, sehingga karena itu, aku menyapamu perlahan-lahan.”

“Ya, ya. Kau sudah berhati-hati. Tetapi orang-orang tua seperti aku ini memang mudah menjadi terkejut. Bukankah begitu.”

Orang itupun tersenyum. Orang itupun sudah setua sumang­kar, bahkan setahun dua tahun di atasnya. Sambil tersenyum ia men­jawab, “Benar. Kau benar Adi. Orang-orang tua mudah benar men­jadi terkejut.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Apakah Ki Sanak memerlukan aku?”

“Ya,” sahut orang itu. “Aku ingin mempunyai seorang kawan untuk melihat peperangan itu.”

“Baik,” jawab Sumangkar, “aku akan mengawanimu. Tetapi biarlah aku melihatnya dahulu dari dekat. Nanti aku akan segera kembali.”

Orang tua itu menggeleng. Sambil masih duduk bersandar sebongkah padas ia menggeleng, “Jangan nanti. Dan sebaik­nya Adi tidak usah pergi ke arena. Bukankah di sana tempat anak-anak muda saling menyombongkan kecakapan mereka memainkan sen­jata? Sama sekali bukan tempatnya orang-orang tua seperti kita?”

Dada Sumangkar berdesir. Sebagai seorang yang telah cukup makan asin pahit penghidupan, segera ia menyadari maksud kata-kata itu. Karena itu maka kemudian iapun tersenyum. Ia berdiri menghadap orang yang duduk bersandar padas itu. Perlahan-lahan mengangguk-angguk sambil tersenyum. Senyumnya membayangkan tang­gapannya atas orang itu.

Sumangkar itupun segera mengerti siapakah yang duduk di hadapannya. Orang itu pasti seorang yang pilih tanding sehingga Sumangkar sama sekali tidak mengetahui kehadirannya. Sikapnya dan kata-katanya yang tenang meyakinkan. Sorot matanya yang tajam menembus langsung ke pusat jantungnya.

Dan ternyata sesaat kemudian Sumangkar segera mengetahui, meskipun ia belum pasti. Tetapi tidak ada orang lain yang dapat disangkanya, orang yang duduk di hadapannya itu. Sehingga ka­rena itu maka segera ia berkata, “Hem. Bukankah Kakang yang menamakan diri Kiai Gringsing?”

Orang itu mengangguk sambil tertawa kecil. Katanya, “Dari mana Adi tahu tentang aku?”

“O,” sahut Sumangkar, “bukankah kita pernah bertemu? Bukankah Kiai pernah mengunjungi daerah ini bersama dua orang murid Kakang selagi aku sedang bermain-main dengan K i Tambak Wedi bersama muridnya yang bernama Sidanti.”

Orang tua itu, yang sebenarnya adalah  Gringsing, tertawa pula. Katanya, “Benar. Benar. Ingatanmu baik sekali Adi. Ternyata meskipun saat itu malam tidak terlalu terang, kau masih juga dapat mengenal aku.”

Sumangkar tertawa pula. Namun hatinya berdebar-debar meng­hadapi persoalan yang tiba-tiba saja tumbuh. Sudah tentu Kiai Gringsing akan berbuat sesuatu, apabila ia benar-benar akan terjun ke dalam arena. Karena itu, maka ia harus menentukan suatu sikap untuk mengatasi setiap perkembangan keadaaan.

Tanpa sesadarnya tiba-tiba ia berpaling ke arah peperangan yang masih saja berkobar dengan dahsyatnya. Sekali lagi dadanya berdesir. Ia melihat beberapa bagian dari gelar Dirada Meta telah terdesak-mundur. Gelar perang yang tangguh itu benar-benar sudah berada dalam bahaya.

“Kiai,” berkata sumangkar itu kemudian, “aku tidak banyak mempunyai waktu. Apakah Kiai tidak berkeberatan apabila Kiai duduk di sini sebentar? Aku akan pergi ke arena itu, ikut serta dengan anak-anak Jipang bermain-main senjata.”

 

ADBM 11(13)

September 1, 2008

Lawannya, Agung Sedayu adalah orang baru di dalam arena pertempuran. Tetapi keprigelannya menggerakkan senyatanya tiba-tiba mencengangkan. Ilmu yang tersimpan di dalam tubuhnya ternyata cukup mampu untuk menghadapi Sanakeling yang perkasa itu. Tempaan yang pernah diterimanya dari Kiai Gringsing, ketekunannya dan bekal yang telah diletakkan oleh ayah dan kakaknya, telahh membentuknya menjadi Agung Sedayu yang lincah, tangguh, dan cekatan.

Namun Agung Sedayu adalah seorang yang tidak cukup berpengalaman dalam olah keprajuritan. Ia mampu bertempur seorang lawan seorang, sekelompok lawan sekelompok, tetapi ia tidak dapat memanfaatkan setiap keadaan pada suatu gelar yang luas, atau bagian-bagian dari gelar itu. Setiap kali Agung Sedayu menjadi ragu-ragu apabila tiba-tiba ia menghadapi gelombang serangan yang ber­ubah-ubah dari pasukan lawannya. Setiap kali ia tidak dapat berbuat benyak dalam keadaan yang tiba-tiba. Bahkan beberapa kali ia men­dengarkan Sanakeling meneriakkan aba-aba dan melihat gerakan-gerakan yang kurang dimengertinya dari laskar lawannya. Sekali Sanakeling memberikan kesempatan kepadanya untuk mendesak maju, namun tiba-tiba kedua sisi sayap Sanakeljng itu seolah-olah menekannya dari ke­dua arah. Serentak pasukan Jipang itu menyempit dalam garis lengkung yang dalam.

Hudaya yang terluka itu, kini telah menggengam pedangnya kembali. Tetapi ia hanya mampu mempertahankan dirinya dari serangan-serangan yang datang dengan tiba-tiba dari prajurit-prajurit Ji­pang. Ia kini terpaksa melihat kenyataan, bahwa tubuhnya telah menjadi semakin lemah, sehingga ia sudah cukup tidak seharusnya tampil ke depan langsung melawan musuh-musuhnya.

Tetapi dalam keadaan-keadaan yang demikian ia sempat melihat susunan sayap kanan laskar Pajang dan sangkal Putung itu. Sayap itu semakin lama menjadi semakin kurang teratur. Agung Sedayu sama sekali tidak pernah memberikan printah dan petunyuk kepada pasukannya. Ia hanya memusatkan perhatiannya kepada perlawanannya menghadapi Sanakeling.

Tetapi itu bukan karena Agung Sedayu mengalami kesulitan. Bukan karena Sanakeling berhasil mendensaknya dan menyudutkannya ke dalam keadaan yang sulit. Tetapi itu adalah karena Agung Sedayu bukan seorang prajurit yang berpengalaman. Ia bukan seorang Senapati yang terlatih. Ia sendiri mampu bertempur, na­mun ia tidak mampu untuk membuat sikap dan suasana perlawanan bagi seluruh sayap yang harus dipimpinnya. Sehingga karena itulah maka seakan-akan setiap prajurit harus mencari sikap sendiri meng­hadapi lawan-lawan mereka yang bertempur dalam satu kesatuan yang utuh.

Untara yang bertempur melawan Macan Kepatihan di induk pasukan melihat suasana itu. Baru saja ia mendapatkan ketenang­an, kini ia melihat persoalan baru pada sayapnya itu. Baru kemu­dian disadarinya bahwa Agung Sedayu bukanlah seorang senapati yang berpengalaman. Apalagi ternyata, yang berada di sayap 1awan sama sekali bukan Alap-alap Jalatunda; tetapi Sanakeling.

Sayap kiri, yang dipimpin oleh Widura, yang mendapat tambahan kekuatan, menjadi semakin baik keadaannya. Ia hanya me­merlukan separo dari tenaga yang diberikan kepadanya, sedang yang lain dikembalikannya kepada induk pasukan untuk memper­kuat kedudukan Untara. Namun Widura itupun kemudian menjadi berdebar-debar melihat tata pertempuran di sayap kanan. Ia mendengar pula, bahwa Citra Gati telah dapat dilumpuhkan oleh Sanakeling. Ia mendengar lewat penghubungnya, bahwa Agung Sedayu-lah yang kini berada di sayap itu. Karena itu, seperti Untara, ia segera mengetahui kelemahan anak muda itu. Agung Sedayu bukan seorang senapati perang, meskipun ilmunya, ilmu tata bela diri dan tata perkelahian menyamai seorang Senapati. Tetapi Widura tidak segera dapat berbuat sesuatu.

Tetapi semakin lama, Widura dan Untara melihat, sayap itu menjadi semakin tertib dan teratur. Beberapa bentuk tata perlawanan yang bagus terjadi di sayap itu. Seakan-akan mereka telah digerakkan oleh suatu perintah dari seseorang yang cukup ber­pengalaman. Seolah-olah Citra Gati telah terjun kembali ke arena itu.

“Sendawa tidak mampu melakukannya,” gumam Untara di dalam hati. “Meskipun orang itu cukup lama menjadi seorang prajurit, dan bahkan kemudian menjadi seorang pemimpin kelompok seperti Citra Gati pula, namun otaknya tidak secerah Citra Gati.”

Tetapi Untara dan Widura tidak sempat meraba-raba terlalu lama, sebab tugas mereka sendiri cukup berat. Namun peruhahan di sayap kanan itu, benar-benar menggembirakan hati Untara, siapapun yang melakukanya. “Mungkin juga Sendawa,” pikir Untara.

Sebenarnya sayap kanan memang menjadi semakin baik. Ke­tika Hudaya menyadari keadaannya, dan melihat bagaimana cara Agung Sedayu melawan Sanakeling, hatinya menjadi tenang. Perlahan-lahan ia menemukan keseimbangan perasaan. Jatuhnya sahabatnya, tidaklah berarti, bahwa ia harus berbuat di luar batas-batas ke­mungkinannya, dan kemungkinan seluruh pasukannya. Dengan demikian, maka pikirannya semakin lama menjadi semakin bening.

Meskipun ia terluka, namun ia masih mampu menilai keadaan sayap kanan itu. Agung Sedayu ternyata seorang yang baik. Seorang yang cukup tangguh untuk melawan Sanakeling, namun ia bukan seorang Senapati. Segera Hudaya melihat kelemahan-kelemahan itu. Dan segera ia menyadari keadaannya. Dengan demikian, maka tiba-tiba terdengarlah aba-abanya melengking di antara dentang senjata kawan dan lawan. Dengan cepat ia membentuk sayap itu menjadi suatu benteng yang tangguh. Sendawa, meskipun ia berada lebih lama di sayap itu, namun ia menyadari keadaannya, sehingga dengan senang hati ia melepaskan pimpinan yang diambilnya langsung setelah Citra Gati tersingkirkan.

Tetapi mula-mula Agung Sedayu-lah yang terkejut mendengar aba-aba yang keluar dari mulut Hudaya, sehingga ia melontar surut sambil herteriak, “Apa artinya Paman Hudaya.”

“Aku sudah tidak gila lagi,” sahut Hudaya. “Aku sedang mencoba memperbaiki tata gelar sayap ini. Maafkan, bahwa aku mengambil pimpinan di tanganku, tetapi aku tidak akan melawan orang itu.”

Sanakeling yang mendengar jawaban itu pula menggeram. Mula-mula iapun melihat kelemahan pimpinan yang baru di sayap. Karena itu, segera ia membuat bentuk-bentuk yang dapat membingungkan lawan yang bergerak menurut cara mereka sendiri-sendiri. Namun tiba-tiba Hudaya berhasil mengatasi keadaan.

“Satan!” teriak sanakeling. “Ayo, majulah bersama-sama.”

Agung Sedayu tidak dapat menghindar lebih lama. Seperti angin ribut Sanakeling menyerangnya. Namun ia masih mendengar Hudaya berkata, “Jangan ragu-ragu. Aku lebih-berpengalaman dalam olah gelar peperangan. Hadapi lawanmu. Mudah-mudahan dendam Citra Gati akan terbalas.”

Sanakeling tidak memberi kesempatan Agung Sedayu untuk membalas. Betapa marahnya orang itu melihat cara-cara yang tidak lazim telah dipergunakan oleh Agung Sedayu dan Hudaya bersama-sama. Namun sanakeling terpaksa mengagumi, ketangkasan ber­pikir orang-orang Pajang itu untuk mengatasi keadaan yang serba tiba-tiba.

Akhirnya Untara pun teringat, bahwa Hudaya berada pula di sayap kanan. “Mudah-mudahan orang itu menyadari dirinya,” gumam Untara di dalam hati, “dan mudah-mudahan ialah yang telah memperbaiki keadaan.”

Demikianlah pertempuran itu dalam keseluruhannya telah berubah. Keseimbangan di antara kedua belah pihak telah berubah. Orang-orang baru yang terjun di dalam arena benar-benar telah mempenga­ruhi keadaan. Meskipun mereka sebagian besar adalah anak-anak muda Sangkal Putung, namun ada pula di antara prajurit-prajurit Pajang yang ditarik dari gardu-gardu. Dan di gardu-gardu itulah ditempatkan anak-anak muda Sangkal Putung dan orang-orang tua yang masih sanggup memukul tanda bahaya.

Macan Kepatihan melihat perubahan itu. Sekali-sekali terdengar ia menggeram dan giginya gemeretak. Ia sudah bertekat bahwa kali ini adalah kali yang terakhir baginya. Kalah atau menang. Karena itu, maka keadaan yang tiba-tiba saja berubah itu sangat mem­pengaruhi perasaannya., Namun bagaimanapun juga, ia masih ingin bertahan sampai matahari tenggelam. Kalau ia mampu ber­tahan, maka keadaan anak buahnya pasti masih baik. Tekad dan nafsu mereka pasti belum lenyap, sehingga besok ia akan dapat menempuh cara yang lain untuk menerobos masuk ke Sangkal Putung.

Tetapi perlahan-lahan namun pasti, laskar Sangkal Putung bersama-sama dengan prajurit-prajurit Pajang berhasil mendesaknya. Setapak demi setapak.

Di kejauhan Sumangkar menggigit bibirnya. Ia melihat per­ubahan itu. Dan hatinya menjadi berdebar-debar pula karenanya.

Wajahnyapun tiba-tiba tampak berkerut-kerut. Sedang tanpa se­sadarnya tangan orang tua itu segera menimang-nimang tongkatnya.

“Hem,” gumamnya, “Untara dan Widura benar-benar seorang Senapati yang limpat. Dengan cerdik mereka telah berhasil meng­atasi gelar Macan Kepatihan yang garang.”

Mata orang tua itu semakin lama menjadi semakin suram. Kembali ia terlempar ke simpang jalan yang tak mudah dipilihnya. Ia tidak akan dapat melihat pasukan Macan Kepatihan hancur dilanda oleh prajurit Pajang dan laskar Sangkal Putung. Na­mun kalau ia memasuki arena peperangan itu, maka apakah ia sampai hati pula membunuhi anak-anak muda Sangkal Putung yang masih baru dapat berlari-larian itu?

“Apakah aku harus meniadakan Angger Untara,” desisnya. Tetapi perasaaunya telah menolaknya. “Tidak sepantasnya,” katanya di dalam hati.

Sumangkar itu menjadi semakin bingung. Ia masih tegak di atas sebongkah tanah padas jang menjorok agak tinggi. Dari tempat itu ia berhasil melihat keadaan medan dengan agak jelas. Meskipun ia tidak mengira-irakan pusat-pusat daripada peperangan itu. Di induk pasukan, pertempuran berkisar di antara Macan Kepatihan melawan Untara. Induk pasukan itu kini telah menjadi semakin luas, karena cara-cara Untara untuk membuat garis peperangan yang menguntungkannya. Di sayap kanan dari laskar Jipang, Sumang­kar melihat keadaan pertempuran yang sulit bagi pasukan Macan Kepatihan. Semakin lama semakin sulit. Ia tidak tahu pasti siapa yang berada di sayap itu untuk melawan Alap-alap Jalatunda. Na­mun karena ketajaman pengetahuannya mengenai peperangan Sumangkar segera menduga, bahwa lawan Alap-alap Jalatunda pasti mempunyai beberapa kelebihan dari padanya. “Mungkin Widura sendiri,” gumamnya. “Orang itu pasti tidak berada di sayap yang lain,” sambungnya sambil melihat sayap kiri pasukan Jipang itu. Sumangkar mula-mula melihat keuntungan dari pasukan Tohpati. Tetapi kemudian iapun melihat perlawanan yang gigih dan bahkan semakin lama menjadi semakin sulit bagi pihak Jipang.

Hati orang tua itupun menjadi gelisah. Setiap kemenangaa pihak Pajang telah menyentuh hatinya. Seperti sepercik api yang menyentuh perasaannya. Semakin banyak menjadi semakin panas, dan bahkan kemudian terasa seolah-olah sebongkah bara telah menyala di dalam dadanya.

“Kasihan Raden Tohpati,” desahnya.

ADBM 11(12)

August 30, 2008

Agak jauh dari pertempuran itu, Sumangkar berhenti di bawah rindangnya pepohonan liar di pinggir lapangan rumput dan tanah-tanah persawahan yang tidak ditanami, tempat pertempuran itu terjadi. Begitu asyiknya ia melihat pertempuran itu, sehingga perhatiannya seluruhnya ditumpahkannya kepada gemerlapnya pedang dan sorak kemenangan pada tiap-tiap kelompok. Sorak yang masih dapat membangkitkan gairah dan nafsu untuk menggerakkan senjata. Berganti-ganti para prajurit itu bersorak-sorak. Sekali-sekali terdengar prajurit Pajang meneriakkan kemenangan-kemenangan kecil apabila ada lawan-lawannya yang terdesak dan jatuh tersungkur di kaki mereka. Namun kemudian prajurit Jipang berusaha menebus kekalahannya. Dan bersorak pulalah mereka, apabila mereka dapat merebut kembali garis pertempuran yang semula ditinggalkan mundur beberapa langkah. Namun semakin lama prajurit Jipang-lah, yang semakin sering mendesak. Apalagi di sisi kanan.

Widura yang berada di sisi kiri dalam gelar pasukan Pajang berusaha mengimbanginya dengan gigih. Widura mengharap, bahwa kemenangan yang betapapun kecilnya akan masih dapat menyalakan tekad dan membesarkan hati anak-anak muda Sangkal Putung. Namun karena induk pasukan itu sendiri mengalami beberapa tekanan yang tak dapat dihindarkan, maka pasukan Pajang benar-benar harus menarik diri beberapa kali.

Widura melihat kesulitan di induk pasukan itu. Karena itu, maka dilepaskannya beberapa orangnya untuk ikut serta memperkuat induk pasukan. Justru mereka adalah prajurit-prajurit yang cukup baik. Sebab menurut perhitungan Widura, lebih baik sayap yang dipimpinnya yang agak mengalami kesulitan daripada induk pasukan.

Usaha Widura dapat juga sedikit membantu. Untara dapat menahan arus yang semakin dahsyat dengan beberapa tenaga dari sayapnya, sehingga pasukan itu tidak harus menarik diri terus menerus.

Sumangkar melihat pertempuran itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali-kali ia tersenyum melihat kemenangan-kemenangan yang didapatkan oleh Macan Kepatihan. Meskipun Macan Kepatihan sendiri tidak dapat mengatasi lawannya, seorang lawan seorang, namun pengaruh pertempuran itu seluruhnya, ternyata telah memperkuat kedudukannya. Untara yang pikirannya terpecah-belah, ternyata harus berjuang sekuat tenaganya, agar kepalanya tidak disambar oleh tongkat baja putih yang berkepala tengkorak di tangan Macan Kepatihan itu.

Sekali-kali terlintas juga di dalam hati Sumangkar, betapa sengsaranya rakyat Sangkal Putung apabila anak Jipang yang telah menjadi buas itu berhasil menembus pertahanan Untara kali ini. Anak-anak, perempuan dan orang-orang tua pasti akan banyak mengalami bencana. Namun apakah ia akan dapat rnembiarkan laskar Jipang itu terpecah porak-poranda.

Di luar kehendaknya sendiri, maka Sumangkar itu berbangga atas murid kakak seperguruannya itu. Ia bangga melihat tongkat yang mirip dengan tongkatnya itu, menyambar-nyambar dengan dahsyatnya, seolah-olah ia melihat dirinya sendiri pada masa-masa mudanya.

“Dahsyat” geramnya “Macan Kepatihan memang pantas memakai gelarnya. la benar-benar garang segarang harimau jantan.”

Sumangkar kini berdiri bersandar sebatang pohon yang rindang. Ia tidak dapat melihat seluruh medan dengan jelas. Namun karena pengalamannya dan pengetahuannya mengenai peperangan, ia dapat membayangkan seluruhnya di garis peperangan itu, sekali-kali ia berdiri di atas ujung-ujung kakinya, dan bahkan sekali-kali ia meloncat pada bongkahan-bongkahan tanah yang agak tinggi. Lalu kemudian kembali ia bersandar di batang pohon itu.

Ketika ia mengangkat wajahnya menatap langit, maka dilihatnya matahari telah melampaui puncaknya. Perlahan-lahan matahari itu merayap turun, menuju ke cakrawala di ujung Barat.

“Tentu.” Sumangkar itu mengangguk-anggukan kepalanya. “Anak-anak muda Sangkal Putung tidak akan dapat bertahan sampai tengah hari. Sebentar lagi pertahanan Untara pasti akan terpecah belah. Anak-anak sangkal Putung pasti meninggalkan pertempuran. Meskipun mereka sama sekali tidak takut mati, tetapi mereka tidak akan mampu bertempur selama itu.”

Namun tiba-tiba ia bergumam, “Kasihan. Mereka akan menjadi korban karena mereka ingin mempertahankan tanahnya, kampung halamannya. Agaknya Untara melupakan keadaan itu.”

Kembali timbul berbagai persoalan di dalam dada sumangkar. Namun akhirnya ia berdesis, “Biarlah pertempuran itu berlangsung sebagaimana seharusnya. Biarlah aku menonton di sini, apapun yang akan terjadi.”

Sebenarnya bahwa laskar Sangkal Putung bersama-sama dengan prajurit Pajang mengalami kesulitan. Meskipun Widura telah menyerahkan beberapa bagian dari kekuatannya, namun karena kekuatan anak-anak Sangkal Putung telah menjadi semakin surut, maka pasukan Pajang dan Sangkal Putung itu berkali-kali harus menarik diri, membuat kedudukan-kedudukan baru yang dapat mengurangi tekanan laskar Jipang. Beberapa orang yang memillki kelebihan dari prajurit-prajurit biasa, telah mencoba memeras tenaga mereka. Agung Sedayu, semakin lama menjadi semakin tatag. Kalau semula ia ragu-ragu karena pertimbangan-pertimbangan yang bersimpangsiur di kepalanya, maka kini ia tidak lagi dapat mempertimbangkannya. Setiap kali ia mendengar anak-anak muda Sangkal Putung berdesis menahan goresan-goresan pedang lawan, dan sekali-kali terdengar mereka memekik tinggi, karena tubuhnya terluka. Karena desakan rasa iba akan nasib kawan-kawannya itulah maka lenyaplah segi-segi perasaan ibanya yang lain. Dengan demikian, maka anak muda itu menjadi seakan-akan burung rajawali yang menyambar-nyambar di antara anak-anak kelinci yang lemah. Hanya dalam kelompok-kelompok yang kuat orang-orang Jipang berani menempuhnya. Demikian pula Swandaru Geni. Namun mereka dikelilingi oleh lawan-lawan mereka. Sedang kawan-kawannya telah menjadi semakin lemah, semakin lemah. Meskipun prajurit Pajang berjuang sekuat tenaga mereka, tetapi lawan mereka seakan-akan menjadi bertambah banyak.

Dalam keprihatinan itulah tiba-tiba mereka mendengar di kejauhan sorak yang gemuruh. Pemimpin laskar cadangan yang datang dari sangkal Putung telah mendengar, betapa laskar mereka di garis peperangan mengalami kesulitan. Karena itu, meskipun mereka masih jauh, namun mereka barusaha untuk mempengaruhi gairah setiap prajurit yang sedang bertempur itu.

Kedua belah pihak terkejut mendengar sorak yang bergelora itu. Sesaat mereka mencoba melihat, siapakah yang sedang, bersorak-sorak. Dan apa yang mereka lihat, benar mempengaruhi perasaan mereka, sebelum laskar cadangan itu mempengaruhi pertempuran itu dengan tenaga mereka yang segar, maka keadaan pertempuran itu telah berubah.

Anak-anak muda Sangkal Putung yang seakan-akan telah kehabisan tenaga tiba-tiba menjadi bingar kembali. Meskipun mereka tidak dapat bertempur sesegar pada saat mereka baru mulai, namun kedatangan kawan-kawan mereka itu telah menumbuhkan semangat yang menyala-nyala. Dengan demikian, maka seakan-akan di dalam diri mereka tumbuh kembali kekuatan-kekuatan yang seolah-olah telah larut dihanyutkan angin.

Melihat kehadiran laskar cadangan itu Tohpati menggeram. Terasa di dalam dirinya sesuatu yang bergejolak. Mau tidak mau terpaksa ia mengumpat di dalam hatinya. “Gila Untara ini. Ternyata ia cerdik seperti setan. Kenapa ia menyimpan tenaga cadangan itu?”

Bukan saja Tohpati yang mengumpat-umpat di dalam dirinya, namun semua orang di dalam pasukan Jipang itu mengumpat-umpat. Bahkan ada di antara mereka yang menjadi cemas bahwa pasukannya akan mengalami kegagalan lagi. Karena itu, maka mereka menjadi semakin buas karena keputus-asaan. Mereka sudah tidak tahan lagi untuk tinggal di hutan-hutan, makan apa saja yang diketemukan. Berkawan dahan-dahan kayu yanq beku dan tidur beralas yang kotor. Ketika tumbuh di dalam dada mereka harapan untuk merubah nasib mereka dengan memecah pertahanan rakyat Sangkal Putung, maka tiba-tiba harapan mereka larut bersama datangnya anak-anak muda Sangkal Putung dan beberapa orang prajurit Pajang yang ditarik dari gardu-gardu perondaan.

Kini Untara merasa, bahwa ia akan dapat bernafas kembali. la bersyukur bahwa laskar cadangan itu tidak terlambat datang, karena kelambatan perintahnya, Untara pun sama sekali tidak menyangka bahwa laskar Jipang itu terlampau kuat, sehingga laskar cadangan itu hampir-hampir menemukan pasukannya telah bercerai-berai.

Pasukan cadangan itu sendiri, ketika melihat ujung-ujung pedang yang berkilat-kilat di kejauhan, seakan-akan mereka tidak bersabar lagi. Langkah mereka serasa terlalu lambat. Karena itu, maka tanpa mereka sengaja, seakan-akan mereka berjanyi untuk berlari bersama-sama. Semakin lama semakin cepat. Senjata-senjata merekapun telah mereka tarik dari sarungnya dan mereka acung-acungkan ke udara. Sedang gemuruh sorak mereka, tidak henti-hentinya membelah udara yang panas karena terik matahari.

Pasukan Pajang dan laskar Sangkal Putung yang kelelahan dan kecemasan itu tiba-tiba menjadi meluap-luap. Merekapun tiba-tiba bersorak gemuruh menyambut kedatangan kawan-kawan mereka.

“Gila…!!” geram Macan Kepatihan “Kau menyimpan cecurut-cecurut itu, Untara..”

Untara tidak menjawab. Namun di kejauhan di luar kesengajaannya, ia melihat sesosok tubuh meloncat ke atas sebuah bongkahan tanah yang agak tinggi, menjinjing sebatang tongkat putih berkilat-kilat.

Untara mengernyitkan alisnya. Namun dari jarak itu ia tidak segera dapat melihat, siapakah orang yang agaknya sangat tertarik melihat pertempuran yang semakin sengit. Orang itu tidak lain adalah Sumangkar. Ketika in mendengar suara sorak yang menghambur di kejauhan dan kemudian melihat sepasukan laskar Sangkal Putung dan beberapa orang prajurit Pajang mendatangi pertempuran itu, hatinya berdesir. Di luar sadarnya ia berkata kepada diri sendiri, “Oh, alangkah bodohnya aku. Ternyata aku salah sangka. Aku kira Untara melupakan kemungkinan itu. Kemungkinan bahwa anak-anak muda sangkal Putung kehilangan kekuatan dalam peperangan ini karena kelelahan. Tetapi ternyata Untara dan Widura adalah orang yang limpat pengetahuannya dalam olah peperangan.

Sumangkar itu menjadi semakin tegang ketika ia melihat pasukan yang datang itu menjadi semakin dekat dengan induk pasukannya. Hatinya menjadi semakin berdebar-debar melihat Macan Kepatihan yang bertempur melawan Untara di tengah-tengah hiruk pikuknya peperangan.

Ketika laskar cadangan itu telah menjadi semakin dekat, Sumangkar melihat pasukan itu memecah diri. Agaknya Untara telah meneriakkan aba-abanya, yang disaut dan diteruskan oleh penghubungnya. Dan perintah itu kemudian telah dilaksanakan. Tenaga yang segar itupun kemudian terbagi. Di induk pasukan, sayap kanan, dan sayap kiri.

“Hem,” Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. la dapat segera melihat akibat dari kehadiran tenaga yang segar itu. Pasukan Pajang dan Sangkal Putung yang semula telah terdesak itu, kini dapat bertahan pada garis yang terakhir. Bahkan kemudian Su­mangkar melihat bahwa keseimbangan pertempuran itu segera berubah.

Laskar sangkal Putung dan pasukan Pajang yang baru, yang telah ditarik dari gardu-gardu peronda itu, segera melibatkan diri dalam pertempuran yang sudah menjadi semakin berkisar masuk ke garis pertahanan Pajang. Para prajurit yang baru datang itu dapat melihat, betapa parah keadaan kawan-kawannya yang selama ini mencoba bertahan mati-matian. Karena itulah maka darah mereka serasa mendidih sampai di kepala. Jantung mereka serasa meledak karena kemarahan yang meluap-luap. Mereka merasa, seperti tubuh mereka sendiri yang telah tersayat oleh kekuatan lawan. Dengan demikian maka segera mereka mengerahkan tenaga mereka yang masih segar menempuh prajurit Jipang yang sedang mengamuk seperti harimau Iuka.

Segera peperangan itu meningkat semakin dahsyat. Tohpati menggeram penuh dendam dan kemarahan. Tongkatnya yang putih berkilat-kilat menyambar-nyambar dengan dahsyatnya.

Untara, yang menjambut kedatangan pasukannya yang segar, segera memberikan perintah-perintahnya. Dicobanya untuk melihat segenap kemungkinan dan pertimbangan.

Namu tiba-tiba Untara itu terkejut mendengar sorak orang-orang Jipang di sayap kanannya. Tetapi ia tidak segera melihat, apakah yang telah terjadi. Justru tepat pada saat orang-orangnya yang segar itu terjun ke arena.

Yang dilihat sepintas, adalah pergolakan di sayap itu. Beberapa lamanya ia melihat orang-orangnya mendesak dalam satu lingkaran dan orang-orangnya yang baru datang, segera masuk ke dalam pertempuran.

Baru kemudian disadarinya bahwa telah terjadi malapetaka di sayap itu. Ternyata ketika Sanakeling, yang memimpin sayap kiri lawan, melihat kehadiran orang-orang baru dari Sangkal Putung, ke­marahannya seakan-akan meledak. Itulah sebabnya, maka dari dalam dirinya meledak pulalah kekuatan yang tidak disangka-sangka. Meski­pun Citra Gati tidak melawannya seorang diri, namun tiba-tiba ia kehilangan kesempatan untuk menghindari serangan yang datang seperti air bah. Ketika ia menangkis pedang di tangan kanan Sana­keling itu, tiba-tiba terasa sebuah sengatan di pundak kirinya. Begitu kerasnya sehingga tubuhnya terguncang, dan seolah-olah ia telah dilemparkan ke samping. Ternyata senjata sanakeling yang lain, sebuah bindi di tangan kirinya, telah meremukkan tulangnya. Sesaat Citra Gati menyeringai, ia masih sempat melihat ujung pedang iang mengarah ke dadanya. Dengan sisa tenaganya yang terakhir ia memukul pedang itu. Tetapi ia sudah tidak memiliki keseimba­ngan yang mantap, sehingga meskipun pedang itu tidak mengehunjam ke dadanya, namun Iambungnya tersobek oleh tajam sen­jata lawannya.

Citra Gati mengeluh pendek. Matanya menjadi gelap dan ia tidak melihat apa yang terjadi kemudian. Ia tidak melihat ketika Sanakeling meloncat sambil memekik tinggi, untuk sekali lagi menusukkan pedangnya di tubuh Citra Gati. Tetapi untunglah bahwa Sendawa melihat semuanya itu. Seperti orang gila ia menyerbu Sanakeling yang sedang gila pula. Senjata orang yang ber­tubuh raksasa itu terayun deras sekali mengarah ke tubuh Sanakeling. Tetapi Sendawa benar-benar tidak menyangka bahwa Sanakeling dapat melenting secepat belalang, sehingga dengan demikian, serangannya itu dapat dihindarkan. Sendawa sendiri bahkan terseret oleh kederasan senjatanya, sehingga terhuyung-huyung beberapa langkah ke samping.

Meskipun demikian, apa yang dilakukan itu ternyata berguna pula. Dalam pada itu, beberapa orang telah menyadari keadaan. Dengan serta merta beberapa orang bersama-sama menyerbu, seperti apa yang dilakukan oleh Sendawa itu. Dengan demikian, maka Sanakeling sekali lagi berteriak tinggi melontarkan dendam dan kemarahan yang meluap-luap. Namun orang-orang Jipang yang sempat menyaksikan Sanakeling berhasil menjatuhkan lawannya, bersorak dengan kerasnya, meneriakkan kemenangan itu. Merekapun segera berloncatan mengambil kesempatan, selagi orang-orang Pajang lagi berbuat gila, melindungi pimpinannya yang terluka parah tanpa menghiraukan keadaan mereka sendiri.

Namun beruntunglah. Pada saat yang demikian itulah maka tenaga baru yang segera terjun dan meluas di arena itu, sehingga orang-orang Jipang tidak sempat berbuat banyak. Mereka harus segera menghadapi lawan-lawannya yang baru, sementara beberapa orang sempat membawa Citra Gati mengundurkan diri dari pertempuran.

“Gila!” teriak Sanakeling membelah hiruk pikuknya dentang senjata. “Ayo siapa menyusul?”

Teriakan Sanakeling itu bagi anak buahnya seakan-akan merupakan perintah untuk bertempur lebih dahsyat Iagi. Seolah-olah mereka­pun ikut serta meneriakkan kata-kata itu. Dan bahkan beberapa orangpun ikut serta menantang dengan kata-kata yang garang. “Ayo, laskar Pajang. Majulah bersama-sama. Bawalah panglima-panglimamu beserta kalian.”

Setiap prajurit Pajang yang melihat peristiwa itu, seakan-akan darahnya meluap ke kepala. Kemarahan, kebencian dan dendam membakar dada mereka. Citra Gati adalah salah seorang pemimpin kelompok yang baik. Seorang yang telah cukup mengendap di dalam pertempuran dan di dalam pergaulan. Karena itu, banyak orang yang senang kepadanya. Sehingga jatuhnya Citra Gati telah membuat prajurit Pajang terbakar.

Betapapun orang-orang Jipang meneriakkan kemenangan, namun orang Pajang sama sekali tidak menjadi gentar. Apalagi di antara mereka telah hadir orang-orang baru itu, demikian mereka hadir, demikian mereka melihat Citra Gati jatuh tersungkur di tanah. Maka kemarahan dan kebencian merekapun segera tertumpah pula.

Teriakan orang-orang Jipang, mengatakan bahwa pemimpin sayap kanan itu telah jatuh. Bahkan sebelum mereka tahu pasti apa yang terjadi, maka mereka telah berteriak, “Pemimpin sayap kanan telah binasa.”

Untarapun akhirnya mendengar pula bahwa Citra Gati mengalami cedera. Ia belum menerima berita resmi apakah Citra Gati terbunuh atau tidak. Namun berita itu telah menggoncang­kan hatinya. Demikjan ia mendengar berita itu, demikian giginya gemeretak karena marah. Apalagi ketika kemudian ia mendengar Tobpati tertawa sambil berkata, “Sayapmu patah, Untara.”

Untara mencoba melihat sayapnya. Sesaat itu terdesak bebe­rapa langkah. Namun untunglah Sendawa bertindak cepat. Se­gera ia mengambil alih pimpinan sambil berteriak, “Sayap ini tidak akan terpengaruh karena hilangnya Kakang Citra Gati. Apalagi sekarang telah datang laskar cadangan yang akan mampu menebus setiap kekalahan.”

Untara menjadi agak tenang melihat kesigapan Sendawa. Namun tiba-tiba ia terkejut ketika di sisi yanq lain ia mendengar sebuah teriakan nyaring, “He, apakah Citra Gati mengalami bencana?”

Tak ada jawaban. Namun kembali terdengar suara, “Se­rahkan pembunuh itu kepadaku.”

Akhirnya Untara melihat, seseorang yang mencoba menerobos pertempuran langsung menyeberang ke sayap lang lain. Orang itu adalah Hudaya. Karena itu segera ia berteriak, “Hudaya. Berhenti.”

“Kakang Citra Gati terbunuh. Akulah gantinya. Siapakah yang telah berani berbuat itu?”

“Hudaya,” teriak Untara, “kembali.”

Hudaya benar-benar telah menjadi gila. Citra Gati adalah sahabatnya yang terdekat. Sejak semula mereka telah bersama-sama memasuki lingkungan kaprajuritan. Sejak semula mereka me­ngalami pahit-getir, asin-manisnya hidup sebagai seorang prajurit. Kini tiba-tiba ia mendengar sahabatnya itu terbunuh. Karena itu, maka perasaannya tidak lagi dapat dikendalikan.

Tingkah laku Hudaya itu benar-benar mencemaskan Untara. la tidak mau melihat korban dari antara pemimpin-pemimpin kelompoknya jatuh satu lagi. Karena itu, maka sekali lagi Untara berteriak, “Hudaya. Kembali ketempatmu.”

“Aku akan menuntut kematian Citra Gati.”

Untara menjadi semakin cemas. Lawan Citra Gati itu adalah Sanakeling. Citra Gati ternyata tidak dapat menahan arus serangan Sanakeling itu. Sedang Hudaya seorang pemimpin kelompok yang tidak berada di atas tingkat Citra Gati. Sekali lagi ia mencoba mencegah perbuatan gila itu, menyeberang langsung dari sisi yang satu ke sayap yang lain, apalagi di sayap yang lain itu telah menunggu seorang yang bernama Sanakeling. Katanya, “He, Hudaya. Kembali ketempatmu. Kau dengar?”

“Tidak.”

“Jangan gila. Kau dengar. Ini perintah senopati daerah lereng Merapi atas nama Panglima Wira Tamtama.”

Sebutan itu ternyata berpengaruh pada hati Hudaya yang sedang gelap. Ia sadar, bahwa Untara kini sedang mengemban jabatan. Namun dengan demikian hatinya menjadi semakin sakit. Dan sakit di hatinya itu diteriakannya keras-keras. “Jadi apakah dibiarkannya saja pembunuh Citra Gati itu?” 

Untara berpikir sejenak. Namun serangan Tohpati justru semakin dahsyat, sehingga Untara menjadi terdesak beberapa langkah. Ia harus segera mengambil keputusan. Dan tiba-tiba keputusannya jatuh. “Agung sedayu. Kau mendapat tugas itu. Sayap kanan.”

Agung Sedayu yang tidak terlampau jauh dari Untara men­dengar teriakan itu. Sekali ia meloncat surut melepaskan lawan-lawannya. Dan terdengar ia menjawab. “Baik. Aku lakukan.”

“Bersama aku,” teriak Hudaya.

”Hem,” Untara menggeram. Hudaya telah kehilangan kepatuhannya karena perasaan yang lepas kendali. Kali ini Untara tidak mencegahnya. Namun sisi kiri dari induk pasukannya harus mendapat seorang pemimpin. Maka katanya berteriak sekali lagi, “Sonya, gantikan tugas Hudaya.”

Terdengar Sonya menyahut. Suaranya kecil melengking tinggi. “Ya. Aku kerjakan.”

Untara masih melihat Hudaya melangkah mundur. Ia tidak langsung menyeberangi pertempuran itu, berjalan dan induk pasukan ke sayap yang lain. Sementara itu Agung sedayu telah mendahului meloncat ke sayap kanan lewat belakang garis pepe­rangan.

Namun karena kesibukan itulah, Untara kehilangan sebagian dari perhatiannya. Tiba-tiba selagi ia sedang sibuk mengatur orang-orangnya, ia merasa Tohpati mendesaknya. Agaknya Macan Kepatihan sedang mempergunakan kesempatan itu untuk mendesak lawannya. Dengan sepenuh tenaga.dan kemampuannya ia menyerang Untara seperti badai menghantam gunung. Betapa deras dan cepatnya. Tongkat putihnya terayun dengan dahsyatnya ke arah kepala Un­tara yang sedang disibukkan oleh hilangnya Citra Gati.

Untara terkejut melihat tongkat baja putih Macan Kepa­tihan seperti seekor burung elang menyambarnya. Untunglah. Bahwa pada saat terakhir, ia berhasil mengerutkan tubuhnya dan merendahkan kepalanya, sehingga ia dapat menyelamatkan dirinya dari benturan yang dahsyat. Benturan yang pasti akan memecah­kan kepalanya. Meskipun demikian, namun tongkat Macan Kepa­tihan telah menyambar ikat kepalanya, sehingga ikat kepala itu terlempar jatuh.

Bukan main dahsyatnya gelora hati Untara. Seolah-olah dadanya akan meledak karenanya. Senopati itu merasa bahwa nyawanya hampir-hampir terlepas dari tubuhnya. Tetapi meskipun ternyata ia berhasil menghindarkan diri dari maut, namun betapa ia merasa dihinakan. Ikat kepalanya terlempar dari kepalanya.

Dengan penuh dendam Untara menggeretakkan giginya. Sekali ia melontar surut. Seolah-olah ia ingin memandangi seluruh tubuh Tohpati sepuas-puasnya. Dan tiba-tiba ia berteriak nyaring di antara dentang dan gemerincingnya senjata. “He, prajurit Pajang dan laskar Sangkal Putung. Jangan kau beri kesempatan pada lawan-lawanmu untuk bertahan sampai senja. Waktu telah menjadi semakin sempit. Besok adalah hari yang harus dapat kita nikmati sebagai hari kemenangan. Karena itu hancurkan musuhmu hari ini.”

Tohpati mencoba tidak memberi kesempatan kepada Untara untuk menyelesaikan kata-katanya. Dengan dahsyatnya ia menyerang dengan senjatanya yang mengerikan. Tetapi Untara telah benar-benar siap melawannya. Itulah sebabnya ia dapat menghindarkan diri dan menyelesaikan kalimatnya. Sesudah itu maka Untaralah yang ber­gerak seperti angin pusaran. Menyerang Tohpati dengan kemara­han yang menyala di dalam dadanya.

Pertempuran antara keduanya menjadi semakin dahsyat. Keduanya telah sampai pada puncak kemarahan dan kekuatannya sehingga keduanya benar-benar tenggelam dalam permainan maut yang mengerikan. Untara kini hampir-hampir tidak terpengaruh lagi oleh keadaan pasukannya. Menurut perhitungannya, maka setidak-tidaknya pasukannya tidak akan dapat dikalahkan segera. Ia mengharap bahwa pertempurannya akan lebih dahulu dapat menentukan kea­daan daripada seluruh pasukan itu. Kehadiran orang-orang baru mem­buatnya tenang dan memberinya kesempatan untuk memusatkan perhatiannya kepada lawannya, Macan Kepatihan.

Agung Sedayu yang berpindah tempat dari sisi induk pasukan ke sayap yang berseberangan telah masuk ke dalam lingkungan peperangan. Ia melihat betapa Sendawa dan beberapa orang me­ngalami kesulitan untuk menahan arus kemarahan Sanakeling. Agung Sedayu masih sempat melihat seseorang terlempar jatuh karena sentuhan pedang Sanakeling. Betapa ia melihat Sanakeling seperti orang gila mengamuk sambil mengayun-ayunkan pedang serta bindinya. Beberapa orang yang mencoba bersama-sama melawannya, hampir tak berani mendekatinya.

Agung Sedayu menarik nafas melihat kedahsyatan gerak Sanakeling. Kasar dan betapa kuat tenaganya. Sesaat Agung Sedayu dirayapi oleh perasaan-perasaan yang aneh. Namun tiba-tiba ia meng­geram. Ia pernah merasakan betapa maut pernah menyentuhnya. Dan ia masih tetap hidup.

Agung Sedayu yang telah berhasil memecahkan kungkungan perasaan takutnya itupun segera membulatkan tekadnya, untuk menghadapi lawannya yang seakan-akan telah menjadi liar dan buas. Dengan nyaringnya ia berteriak, “Sendawa, lepaskan lawanmu.”

Sendawa terkejut mendengar suara itu. Ia tidak segera tahu, siapakah yang akan menggantikan kedudukan Citra Gati. Karena itu ia masih tetap melawan sambil bertanya, “Siapakah kau?”

Sendawa sama sekali tidak berani melepaskan lawannya se­kejappun untuk berpaling. Ujung pedang Sanakeling ternyata lebih cepat dari kejapan mata.

Di belakangnya terdengar jawaban, “Aku telah mendapat perintah untuk berada di sayap ini. Agung Sedayu.”

“Oh,” Sendawa tiba-tiba dirayapi oleh perasaan yang mene­nangkannya. Ia pernah mendengar kepahlawanan Agung Sedayu. la pernah melihat kelebihan Agung Sedayu daripada Sidanti di la­pangan Sangkal Putung. Kini Sedayu itu hadir menggantikan ke­dudukan Citra Gati.

Tetapi Sendawa itu terkejut ketika terasa seseorang men­desaknya dan langsung menyusup ke dalam lingkaran pertempuran itu mendahului Agung Sedayu. Orang itu langsung menyerang Sanakeling dengan membabi buta.

“Paman Hudaya,” teriak Agung Sedayu.

Hudaya tidak mendengarnya. Senjatanya berputar melampaui kecepatan baling-baling. Namun perhitungannya tidak wajar lagi, sehingga betapa cepatnya ia menyerang, tetapi senjatanya sama sekali tidak dapat menyentuh kulit Sanakeling.

“He, kau juga man bunuh diri,” teriak Sanakeling.

Hudaya tidak menjawab. Sekali lagi ia menyerang dengan dahsyatnya. Namun sekali lagi Sanakeling berhasil menghindarkan dirinya, bahkan dengan kemarahan yang meluap-luap Sanakeling berhasil memukul senjata Hudaya hampir pada tangkainya.

Hudaya terkejut. Terasa tangannya dipatuk oleh getaran yang dahsyat. Betapapun ia mencoba bertahan, namun senjatanya terlempar beberapa langkah daripadanya.

Terdengar Sanakeling berteriak nyaring. Sekali ia meloncat maju dengan pedang terjulur. Demikian cepatnya, sehingga Sendawa sama sekali tidak berdaya berbuat sesuatu untuk mem­bantu Hudaya. Meskipun ia mencoba meloncat sejauh-jauh ia dapat, tetapi kecepatan gerak Sanakeling melampaui kecepatan gerakannya.

Hudaya masih mencoba untuk memiringkan tubuhnya. Namun gerakannya itu hampir tak berarti. Ia masih melihat ujung pedang Sanakeling itupun beringsut seperti geseran tubuhnya sendiri. Karena itu, segera ia mencoba melindungi dadanya dengan ta­ngannya yang bersilang. Tetapi ia sadar, bahwa tangannya itu sama sekali tidak akan berarti melawan tajam ujung pedang Sanakeling.

Tetapi Hudaya terkejut, dan bahkan Sanakeling pun menggeram ketika terdengar senjatanya berdentang. Sanakeling itu merasa tangannya berkisar, dan karena itulah maka ujung pe­dangnyapun berkisar pula.

Dalam pada itu terdengar Hudaya mengaduh pendek. Bebe­rapa langkah ia terdorong ke samping. Terasa lengannya menjadi pedih. Ia sempat melihatnya, maka tampak darahnya memerahi lengan bajunya.

Tetapi ia telah terhindar dari maut, ternyata pedang Sanakeling tidak merobek dadanya, meskipun ia terluka.

“Setan,” terdengar Sanakeling mengumpat. “Kau berani mengganggu aku? Kau selamatkan kelinci itu, tetapi kau sendiri yang akan terbunuh oleh pedangku.”

Kini yang berdiri di hadapan Sanakeling adalah Agung Sedayu. Dengan cepat ia datang tepat pada waktunya menyelamatkan nyawa Hudaya. Meskipun belum mapan benar, tetapi ia telah berhasil memukul pedang Sanakeling, sehingga pedang itu berubah arah. Namun pedang Sanakeling itu masih juga mematuk lengan Hudaja.

“Siapakah kau, he?” teriak Sanakeling. Matanya menjadi merah dan liar.

Terasa tengkuk Agung Sedayu meremang. Ia pernah melihat mata yang seliar itu di belakanq halaman Kademangan Sangkal putung ketika ia berkelahi melawan Sidanti.

“Apakah kau belum mengenal Sanakeling,” teriak Sana­keling.

Tidak sesadarnya Agung Sedaju mengangguk. Jawabnya singkat, “Belum. Baru sekarang aku mengenalmu, meskipun aku pernah mendengar nama itu, satu dari sekian nama prajurit Jipang.”

Agung Sedayu menjawab dengan jujur, tanpa maksud apapun. Namun Sanakeling yang garang itu merasa, jawaban itu suatu hinaan baginya. Bagi seorang yang merasa dirinya hanya selapis tipis di bawah Macan Kepatihan yang namanya menguman­dang dari pesisir Lor sampai ke pesisir Kidul. Sedang yang berdiri di hadapannya tidak lebih dari seorang anak-anak yang memandanginya dengan pandangan mata yang kosong.

“He, apakah kau benar-benar belum mengenal Sanakeling?”

Sedayu kini mendjadi heran. Di dalam hiruk pikuk peperangan lawannya masih sempat menanyakan dirinya sendiri. Namun Agung Sedayu tidak ingin mendahului.

Tetapi sekali lagi Agung Sedayu terkejut. Seseorang me­loncat di sampingnya sambil mengayunkan pedangnya ke arah Sa­nakeling. Tetapi dengan tenangnya Sanakeling menghindar, sam­bil berteriak, “Kau benar-benar ingin mati, kelinci yang malang?”

Hudaya yang telah kehilangan segala pertimbangannya itu tiba-tiba telah menyerang Sanakeling kembali. Kali ini dengan segenap kemampuan dan ketangkasannya, ditumpahkannya segenap sisa tenaganya. Namun sekali lagi Hudaya menyeringai kesakitan. Kini tangannya terbentur bindi Sanakeling. Untunglah tidak terlalu keras, karena Sanakeling tidak sempat mengerahkan tenaganya. Meskipun demikian, sekali lagi senjata yang telah dipungutnya terlempar dari tangannya.

Agung Sedayu melihat Sanakeling tertawa seperti suara hantu melihat mayat tergolek di pekuburan. Semakin keras dan menyakitkan telinga. Bersamaan dengan itu, Agung Sedayu melihat Sanakeling mengangkat pedangnya dan terayun deras sekali ke leher Hudaya.

Hudaya masib berusaha untuk mengelak. Direndahkan tubuh­nya sambil berkisar ke samping. Tetapi nada suara Sanakeling meninggi. Seperti seekor kucing bermain-main dengan seekor tikus ia berkata nyaring, “O, kau mencoba melompat ke samping orang yang malang. Bagus. Kau lihat ujung pedangku, supaya kau melihat maut menghampirimu.”

Hudaya melihat ujung pedang Sanakeling. Tetapi perasaan­nya seakan-akan telah mati lebih dahulu daripada dirinya sandiri. Karena itu Hudaya sama sekali tidak menjadi gentar. Bahkan berkedippun tidak.

Tetapi sekali lagi Sanakeling berteriak tinggi. Kemarahannya benar-benar memuncak sampai ke ubun-ubun. Kali ini sekali lagi pedangnya membentur sesuatu. Tidak saja pedangnya bergeser arah, tetapi pedangnya seakan-akan menghantam dinding baja, sehingga terasa tangannja bergetar.

“Setan, hantu, gendruwo.” umpatnya “kau benar mau mati he, anak demit?”

Agung Sedayu berdiri dengan kokohnya. Kakinya seakan-akan jauh menghunjam menembus bumi. Kini ia dapat mengetahui, betapa Sanakeling benar-benar memiliki tenaga raksasa. Terasa tangan­nya tergetar pada saat senjatanya membentur tenaga Sanakeling. Bahkan hampir-hampir senjata itu lepas. Untunglah, segera ia dapat mengatasi keadaan sehingga senjata itu tetap berada di dalam genggamannya.

Namun kali ini Agung Sedayu tidak dapat membiarkan Hudaya berbuat di luar nalar dan pikirannya. Karena itu maka segera ia berteriak, “Paman Hudaya. Menepilah.”

“Aku akan membunuhnya,” sahut Hudaya.

“Menepilah,” ulang Agung Sedayu.

“Jangan campuri urusanku,” bentak Hudaya keras-keras.

“Akulah pimpinan sayap kanan,” sahut Agung Sedayu tegas-tegas.

Hudaya terdiam sesaat. Namun hatinya berdesir ketika ia melihat, Sanakeling tanpa berkata sepatah katapun menyerang Agung Sedayu dengan kecepatan yang mengagumkan. Bahkan nafas Hudaya itupun serasa berhenti karenanya. Demikiam cepat dan tangkasnya Sanakeling itu meloncati lawannya. Ia tidak dapat melihat kecepatan itu, selagi ia sendiri bertempur melawannya.

Namun ketika Sanakeling itu menyerang Agung Sedayu, barulah disadarinya, betapa berbahayanya orang itu.

Tetapi sekali lagi dadanya berdesir ketika ia melihat bagaimana cara Agung Sedayu melepaskan diri dari terkaman itu. Lincah seperti burung sikatan. Mengendap lalu melontar ke samping, sementara itu pedangnya menusuk lambung Sanakeling yang terbuka. Sanakeling terkejut melihat ketangkasan lawannya yang masih muda itu. Jauh lebih muda dari lawannya yang telah dijatuhkannya, dan lawannya yang satu lagi, yang hampir dibunuhnya sampai dua kali. Karena itu mulutnya yang kasar sekali lagi mengumpat, ”Anak setan. Tataplah langit untuk yang terakhir kalinya, sebelum perutmu terbelah oleh pedangku. Siapa namamu he anak muda?”

Agung Sedayu tidak segera menjawab. Tetapi terpaksa ia melihat ketangkasan Sanakeling itu sekali lagi. Dengan lincahnya Sanakeling berhasil menghindarkan dirinya dari sambaran pedang Agung Sedayu. Bahkan sambil meneruskan kata-katanya, “Katakanlah siapa namamu, supaya aku kelak dapat mengatakan, bahwa nama itu adalah nama dari salah seorang anak muda yang telah aku bunuh, karena kesombongannya sendiri.”

Hati Agung Sedayu bergetar mendengar kata-kata itu. Ia sama sekali tidak senang melihat sikap, kata-kata dan anggapan Sanakeling terhadap dirinya. Karena itu maka dijawabnya Sanakeling, “Ada­kah gunanya bagimu untuk mengetahui namaku yang tidak berarti? Aku adalah hanya seorang prajurit dari sekian banyak prajurit-prajurit yang lain. Bahkan aku adalah prajurit yang berpangkat paling rendah dari prajurit-prajurit yang lain.”

”Gila,” geram Sanakeling, “jangan jual tampang di pertempuran ini. Sebut namamu!”

“Baik,” jawab Agung Sedayu, “namaku adalah Agung Sedayu.”

“He, Agung Sedayu,” ulang Sanakeling.

“Ya.”

Tiba-tiba Sanakeling itu tertawa. Ia pernah mendengar sekali dua kali nama itu disebut oleh Alap-Alap Jalatunda. Dan bahkan nama itu permah disebut-sebut oleh hampir setiap bibir orang Sangkal Putung. Laskar Jipang di dalam hutan itupun pernah mendengar nama itu dalam lingkungan kelaskaran Pajang dan Sangkal Pu­tung dari orang-orang yang sengaja ditempatkannya sebagai telik dan petugas-petugas rahasia yang berhasil sedikit-sedikit mendengar tentang Sangkal Putung. Bahkan akhirnya Sanakeling berkata lantang, “He bukankah kata orang, Agung Sedayu itu adik Untara dan kemanakan Widura?”

Agung Sedayu tidak tahu, kenapa hatinya bergetar mendengar pertanyaan itu. Agaknya namanyapun termasuk nama yang harus di perhitungkan oleh orang-orang Jipang. Namun dijawabnya, “Ya. Aku adalah adik Untara.”

“Pantas, pantas,” geram Sanakeling. Tiba-tiba geraknya menjadi semakin cepat. Serangannya datang menyambar-nyambar seperti elang menyerang anak ayam di tanah lapang. Menukik dan menyambar dengan kuku-kukunya.

Tetapi Agung Sedayu kini bukan lagi anak ayam yang ketakut­an melihat elang melayang di langit. Tangannya kini tidak lagi gemetar menggenggam tangkai pedang. Meskipun kadang-kadang hatinya masih dilapisi seribu satu macam pertimbangan, tetapi anak itu tidak lagi harus melawan ketakutan dan, kecemasannya.

Hudaya yang terluka itu, melihat pertempuran antara Sana­keling dengan Agung Sedayu dengan mulut ternganga. Pertempur­an itu berjalan semakin lama semakin dahsyat. Sanakeling yang marah menyerang Agung Sedayu dengan sengitnya, sedang Agung Sedayu pun melawannya dengan tekad yang menyala di dalam dadanya.

Jatuhnya Citra Gati merupakan peringatan baginya, bahwa apabila ia lengah sedikit saja, niscaya nasibnya tidak akan lebih baik dari Citra Gati itu.

Demikianlah maka keduanya tenggelam dalam perkelahian yang semakin seru. Keduanya adalah orang-orang yang memiliki beberapa kelebihan dari prajurit-prajuri yang lain.

Sanakeling adalah pradjurit Jipang yang tangguh. Ia adalah orang kedua sesudah Macan Kepatihan sendiri. Keprigelannya menggerakkan kedua senjatanya benar-benar mengagumkan dan mengerikan. Kedua senjata di tangannya, terayun bagaikan ombak yang bergulung-gulung susul-menjusul.

ADBM 12 (Skedul Editing)

August 30, 2008

Inilah skedul editing untuk Jilid 12:

Halaman

Editor

File Keluar

Deadline

Tayang

7-11

Aku

Sudah

9/1/2008

9/2/2008

12-17

Baseman

Sudah

9/1/2008

9/2/2008

18-23

Nindityo

Sudah

9/2/2008

9/3/2008

24-29

Senoyudo

Sudah

9/2/2008

9/3/2008

30-35

ADBM Melben

Sudah

9/3/2008

9/4/2008

36-41

Aulianda

Sudah

9/3/2008

9/4/2008

42-47

Bensroben

Sudah

9/4/2008

9/5/2008

48-53

Doyok

Belum

9/4/2008

9/5/2008

54-59

Baseman

Belum

9/5/2008

9/6/2008

60-65

Bensroben

Belum

9/5/2008

9/6/2008

66-61

Senoyudo

Belum

9/6/2008

9/7/2008

62-67

ADBM Melben

Belum

9/6/2008

9/7/2008

68-73

Nindityo

Belum

9/7/2008

9/8/2008

74-80

Aulianda

Belum

9/7/2008

9/8/2008

Note:

1.       Kata ulang menggunakan angka 2 (contoh: tiba2, hampir2, dll) agar langsung diubah menggunakan ejaan sekarang.

2.       Yang tidak bisa agar meninggalkan pesan agar bisa dicarikan penggantinya.

Thanks,

DHE2

ADBM 11(11)

August 30, 2008

Sumangkar menggelengkan kepalanya. Namun ia tidak juga berdoa supaya Macan Kepatihan berhasil merebut Sangkal Putung. Ia tidak ingin membayangkan bagaimana perempuan dan kanak-kanak Sangkal Putung menjadi ketakutan dan menjadi barang rayahan yang akan diperlakukan dengan semena-mena.

Karena itu Sumangkar menjadi bingung. Apakah yang sebaiknya dilakukan?

Ketika kemudian ia melihat seseorang di kejauhan, maka segera ia berdiri dan berjalan ke perkemahan kembali. Kepada orang yang dilihatnya itu Sumangkar melambaikan tangannya me­manggil.

Orang yang dipanggilnya itupun datang mendekat, seolah-olah sedang menyongsongnya.

“Akan kemanakah kau?” bertanya Sumangkar.

“Mengambil air,” jawab orang itu.

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Apakah luka Bajang sudah diobati?”

“Sudah.”

“Bagaimana keadaannya?”

“Tidak apa-apa. Ia sudah dapat bekerja lagi di dapur.”

“Tolong panggil anak itu kemari.”

Orang itupun segera kembali untuk memanggil Bajang. Su­mangkar sendiri tidak meneruskan Iangkahnya. Kini kembali ia duduk di bawah rimbunnya dedaunan hutan. Sekali-sekali diamat-amatinya burung-burung liar yang berterbangan, hinggap dari dahan yang satu ke dahan yang lainnya.

Bajangpun segera datang mendekatinya. Tetapi sikap anak itu telah jauh berbeda dari sikapnya sehari-hari.

“Kiai memanggiI aku?”   ia bertanya.

Mendengar pertanyaan itu Sumangkar terkejut, tetapi iapun tersenyum. “Sejak kapan kau menyebut aku demikian?”

Bajang menjadi tersipu-sipu sehingga ia tidak dapat menjawab pertanyaan itu.

“Duduklah Bajang,” minta Sumangkar.

Bajang pun segera duduk di samping Sumangkar. Terasa beberapa pertanyaan melonjak-lonjak di dalam dadanya. Dalam tanggapannya Sumangkar yang duduk di sampingnya itu sama sekali bukan Sumangkar yang dikenalnya setiap hari. Sumangkar itu seolah-olah adalah orang baru di dalam perkemahan itu. Orang baru yang sakti melampaui kesaktian Macan Kepatihan sendiri.

“Bajang,” berkata Sumangkar. Sumangkar sendiri tidak tahu, kenapa tiba-tiba ia menaruh kepercayaan kepada anak itu. Tiba-tiba saja ia melihat kelebihan Bajang dari orang-orang lain, sejak ia melihat sikap anak itu menghadapi kekasaran Tundun atasnya. Dan kemudian dilanjutkannya kata-katanya. “Apakah pekerjaanmu sudah siap?”

“Belum seluruhnya Kiai, tetapi segera akan selesai.”

“Maksudku, bagaimanakah kalau aku hari ini berhalangan membantumu di dapur? Apakah pekerjaan kita dapat selesai sebelum petang?”

“Oh, tentu, tentu. Dan seharusnya Kiai tidak lagi bersusah payah bekerja di dapur. Kiai dapat memerintahkan Tundun untuk melakukannya. Ia pasti tidak berani membantah lagi.”

“Tidak Bajang. Aku sendiri memang memilih pekerjaan itu. Jangan kau sangka bahwa Macan Kepatihan tidak mengenal aku. Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda itupun mengenal siapa Sumangkar. Tetapi sengaja aku minta mereka untuk membiarkan aku melakukan pekerjaan yang aku senangi.”

“Oh, jadi Raden Tohpati telah mengenal Kiai?”

“Sudah Bajang. Sejak di kepatihan Jipang. Mantahun adalah kakak seperguruanku.”

“Oh,” Bajang menjadi pucat.

Tetapi cepat-cepat Sumang­kar menyambung, “Tetapi aku sama sekali bukan seorang pejabat pemerintahan seperti Patih Mantahun. Aku sejak di kepatihan, adalah seorang juru masak.”

Bajang menundukkan kepalanya. Baru kini ia menjadi jelas siapakah kawannya yang selama ini dianggapnya sebagai seorang tua yang telah tidak lagi mampu bekerja terlalu keras, yang oleh orang-orang lain disebutnya juru masak yang malas.

“Tetapi Bajang,” berkata Sumangkar kemudian, “ja­ngan kau menganggapku berlebih-lebihan. Sikapmu jangan kau rubah seperti terhadap seorang pemimpin.”

“Bajang,” kembali terdengar suara Sumangkar, “bagaimana dengan pertanyaanku? Hari ini aku tidak dapat membantumu?”

“Tidak apa-apa Kiai. Betul, aku dan kawan-kawan yang lain akan dapat menyelesaikannya. Silahkan Kiai beristirahat.”

Sumangkar menggeleng. Katanya, “Aku tidak ingin beristirahat, Bajang.”

Sekilas Bajang berpaling. Dilihatnya wajah Sumangkar yang suram. Lalu terdengar ia bertanya, “Apa yang akan Kiai lakukan sekarang?”

“Aku akan pergi.”

“Pergi?”

“Ya.”

“Kiai akan pergi ke mana?” desak Bajang.

Sesaat Sumangkar menjadi ragu-ragu. Tetapi kemudian jawabnya, “Sebenarnya sejak Macan Kepatihan berangkat, hatiku menjadi gelisah. Seolah-olah aku melepas anak di tepi sungai.”

Bajang mengangkat wajahnya. Tiba-tiba ia bertanya, “Kenapa Kiai tidak turut ke Sangkal Putung. Bukankah tenaga Kiai akan sangat berguna untuk merebut daerah itu?”

“Aku tidak tahu, kenapa Macan Kepatihan menolak tawaranku. Disuruhnya aku tinggal di perkemahan ini.”

“Apakah sekarang Kiai akan menyusul ke Sangkal Putung?”

Sumangkar mengangguk. “Ya,” jawabnya, “aku ingin melihat pertempuran itu.”

Bajang mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Apakah aku dapat ikut serta Kiai.”

Sumangkar menggeleng. “Jangan. Perjalananku mempunyai bentuk yang lain dari perjalanan sebuah pasukan. Karena itu, biarlah aku pergi sendiri. Bukankah kau mempunyai pekerjaan yang cukup penting di sini, menyiapkan makan untuk pasukan itu.”

Bajang mengangguk. Gumamnya, “Baik Kiai.”

Mereka berdua, Bajang dan Sumangkar, untuk sesaat saling berdiam diri. Mata Sumangkar yang redup memandang jauh menembus rimbunnya hutan. Hatinya kini sedang dilibat oleh kebimbangan dan keragu-raguan. Ia merasa bahwa seakan-akan kini ia berdiri di simpang jalan. Dan diketahuinya bahwa kedua simpangan itu sama-sama tidak dikehendakinya. Bahkan kembalipun tidak akan dapat ditempuhnya.

Tiba-tiba Sumangkar itu tersentak ketika ia mendengar seperti jerit seseorang. Ketika ia mengangkat wajahnja, barulah disadarinya, bahwa suara itu adalah suara seekor burung elang yang bertempur di udara.

“Hem,” desahnya, “aku harus pergi Bajang.”

Bajang berpaling sambil mengangguk, “Silahkan Kiai. Kedatangan Kiai akan banyak memberi bantuan kepada pasukan itu.”

Sumangkar menggeleng. “Belum tentu. Bahkan mungkin aku akan diusir oleh angger Tohpati.”

“Kalau Raden Tohpati itu memerlukannya, maka kehadiran Kiai akan sangat membesarkan hatinya.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia berdiri, membenahi pakaiannya dan berbisik seakan-akan kepada dirinya sendiri, “Aku akan pergi. Tetapi aku harus kembali dulu ke perkemahan.”

“Marilah Kiai,” sahut Bajang.

Sumangkar kemudian tidak berkata-kata lagi. Cepat-cepat ia berjalan ke perkemahan langsung masuk ke dalam gubugnya. Bajang yang mengikutinja, berdiri tegak di muka pintu gubug sambil mengawasi apa yang sedang dicari oleh Sumangkar itu di bawah tumpukan jerami, tempat ia tidur di malam hari.

Bajang terkejut ketika ia melihat benda itu. Ia pergi ke mana saja bersama pasukan dan ia pergi ke mana saja bersama Sumangkar, tetapi ia belum pernah melihat benda itu.

“Benda ini adalah benda peninggalan,” desis orang tua itu. “Jarang kau melihatnya. Aku selalu membawanya di antara barang-barang yang lain dan terbalut kain.”

Benda itu mirip benar dengan benda yang paling berharga dalam pasukan itu, meskipun agak lebih kecil. Tongkat baja putih, dengan kepala yang berwarna kekuning-kuningan. Mirip benar dengan tongkat baja putih milik Tohpati.

Dengan suara gemetar Bajang bertanya, “Apakah benda itu lain dengan yang dimiliki oleh Raden Tohpati?”

“Gurunya adalah seperguruan dengan aku. Kami masing-masing menerima senjata serupa. Dan Senjata kakak seperguruanku itu kini telah jatuh ke tangan Tohpati, murid satu-satunja.”

Bajang mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia belum pernah me­lihat Sumangkar menjinjing senjata, selain menjinjing kapak, pisau dapur atau sebuah kelewang pembelah kayu. Kini orang tua itu menjinjing sebatang tongkat baja putih berkepala ke­kuning-kuningan berbentuk tengkorak, agak lebih pendek sedikit dari tongkat Tohpati. Alangkah jauh bedanya. Sumangkar yang setiap hari berjongkok di dapur dan Sumangkar yang menjinjing tongkat itu. Karena itu maka terasa hatinya berdesir.

“Kiai, ternyata Kiai adalah seorang yang menakjubkan. Meskipun Kiai dapat mengimbangi kesaktian Tambak Wedi, namun selama ini Kiai dapat merendam diri dalam keprihatinan,” berkata Bajang kemudian.

“Kau salah sangka Bajang,” sahut Sumangkar. “Selama ini aku sama sekali tidak merendam diri dalam keprihatinan. Bahkan aku merasa bahwa aku mendapat istirahat yang panjang. Aku tidak perlu lagi bekerja terlalu berat di peperangan. Betapapun saktinya seseorang, namun perang adalah pekerjaan yang berat. Mungkin aku merasa bahwa seseorang tidak berarti dalam olah senjata, namun di dalam peperangan ia tidak berdiri sendiri. Dan aku tidak hanya melawan musuh-musuh itu seorang lawan seorang. Seandainya musuh-musuhku adalah orang-orang yang lemah dan sama sekali tidak berarti sehingga aku akan dapat membunuhnya seperti menebas batang ilalang, namun dalam keadaan yang demikian, musuh yang terberat adalah perasaan sendiri. Apakah aku akan dapat tidur dengan tenang setelah aku mengotori tanganku dengan darah orang yang lemah dan tidak berarti itu? Apakah aku akan dapat tidur nyenyak kalau aku sempat menghitung orang yang telah aku bunuh? Tidak Bajang. Aku tidak bisa. Karena itu pekerjaan di dapur adalah pekerjaan yang menyenangkan bagiku. Bagi se­orang pemalas.”

Bajang tidak menjawab. Kini ia melihat Sumangkar itu telah siap. Dan Bajang itu mendengar Sumangkar berkata, “Lakukan pekerjaanmu baik-baik Bajang. Aku akan pergi ke Sangkal Putung untuk melihat peperangan itu.”

Bajang melangkah ke samping ketika Sumangkar berjalan ke pintu. Lamat-lamat terdengar ia berdesis, “Selamat jalan Kiai. Mudah-mudahan perjalanan Kiai akan sangat berarti.”

Sumangkar mengangguk. Sahutnya, “Mudah-mudahan. Apakah kau ingin aku turut bertempur?” bertanya orang tua itu.

Bajang mengangguk, “Ya,” jawabnya.

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Kata-kata Bajang ada­lah kata-kata yang wajar. Setiap prajurit Jipang menghendaki kemenangan. Setiap prajurit Jipang ingin segera membelah Sangkal Putung, menguasainya, dan memiliki setiap kekayaan yang ada di dalamnya. Tetapi apakah dengan mengalahkan Sangkal Pu­tung, Pajang akan tunduk di bawah kaki Macan Kepatihan?

Hem,” Sumangkar itu menggeleng. “Jauh. Terlalu jauh jalan yang harus ditempuh,” katanya di dalam hati. “Mungkin sepanjang umurku keinginan untuk itu tidak akan per­nah tercapai. Yang dapat dilakukan adalah menduduki suatu tempat, untuk kemudian meninggalkannya setelah dirampas segenap kekayaan. Dalam keadaan demikian, maka sulitlah bagi laskar Jipang untuk mengekang diri dalam lingkaran peradaban dan kemanusiaan.”

Dalam kebimbangan itulah kemudian Sumangkar siap mening­galkan perkemahannya. Ia tidak tahu, manakah yang paling baik dilakukan. Ia tidak sampai hati melihat Macan Kepatihan selalu disiksa oleh kekalahan demi kekalahan, namun ia tidak akan sam­pai hati pula melihat Sangkal Putung menjadi ajang kehancuran.

Sebelum Sumangkar itu meninggalkan perkemahan, maka pesan yang diberikan kepada Bajang adalah, “Hati-hatilah dengan kawan-kawanmu Bajang. Tawaran Tambak Wedi dapat mempenga­ruhi kesetiaan mereka kepada Macan Kepatihan.”

“Aku akan mencoba memperhatikannya Kiai,” jawab Bajang.

Sumangkar itupun kemudian berjalan dengan hati yang bim­bang. Dijinjingnya tongkatnya, namun ia tidak yakin, apakah tongkat itu akan dipergunakannya. Sudah terlalu lama ia menyim­pannya, bahkan hampir ia tidak pernah membayangkan, bahwa tongkat itu akan dipergunakannya lagi, meskipun keadaannya masih terbelenggu dalam kekalutan dan peperangan.

Tetapi tongkat itu kini dijinjingnya. Sekali-sekali Sumangkar yang tua itu menengadahkan wajahnya. Di langit matahari berjalan dengan malasnya. Namun terik panasnya seakan-akan membakar kulit.

Sumangkar itu kemudian mempercepat langkahnya. Sekali-sekali ia masih harus meloncati air yang tergenang, sisa hujan yang lebat semalam.

Dalam pada itu di ujung Kademangan Sangkal Putung per­tempuran yang dahsyat masih saja terjadi. Pekik dan ratap di antara dentang senjata. Anak-anak muda Sangkal Putung sudah tidak berteriak-teriak lagi. Mereka seakan-akan sudah kehabisan tenaga dalam perlawanan yang semakin berat.

Semakin lama terasa bahwa anak-anak Sangkal Putung menjadi semakin kendor. Untara yang melihat keadaan itu menjadi sema­kin prihatin. Pertempuran itu semakin bergeser ke kanan. Bukan saja bergeser ke kanan, tetapi Untara terpaksa beberapa kali menarik diri untuk memberi kesempatan kepada Sedayu dan Swan­daru untuk membantu mengurangi tekanan-tekanan di induk pasukan. Hudaya di satu sisi bersama Agung Sedayu dan Sonya beserta Patra Cilik di sisi yang lain bersama Swandaru telah memeras tenaga mereka. Mereka bertempur sambil berusaha untuk tetap memberi kesegaran kepada anak-anak muda Sangkal Putung. Namun pedang-pedang mereka sudah tidak terayun sederas pada saat mereka mulai. Bah­kan dengan demikian, maka korban berjatuhan. Satu demi satu.

Setiap kali Swandaru mendengar pekik kesakitan, setiap kali ia menggeram, dan pedangnya menyambar-nyambar seperti kilat di langit. Tetapi lawannya adalah prajurit-prajurit terlatih yang sedang berputus asa, sehingga bagaimanapun juga, maka ia harus berjuang se­kuat-kuat tenaganya. Untunglah bahwa Kiai Gringsing telah membe­rinya bekal secukupnya, sehingga ia tidak perlu berkecil hati menghadapi prajurit-prajurit itu. Tetapi kawan-kawannya, anak-anak muda Sangkal Putung adalah berbeda.

Tohpati tersenyum melihat kemenangan-kemenangan yang dicapainya. Ia telah lupa segala-galanya. Ia lupa kebimbangan-kebimbangan yang mencengkam hatinya. Ia lupa kejemuan-kejemuan yang selama ini merayapi jantungnya. Sebagai seorang prajurit yang mendapatkan beberapa kemena­ngan di medan perang, maka pastilah akan menggugah tekadnya lebih dahsyat. Demikianlah Macan Kepatihan saat itu. Kemena­ngan-kemena­ngan itu seakan-akan telah menambah kekuatannya. Bahkan perasaan itu melimpah kepada setiap prajurit yang ikut dalam pertem­puran itu.

ADBM 11(10)

August 29, 2008

“Bagus,” sahut gurunya, “kau adalah muridku yang baik. Betapapun juga kau mengalami kesulitan, tetapi kau tetap tidak mau menyakiti hati prajurit-prajurit Jipang yang berani. Nah, tinggalkan mereka. Akupun akan segera pergi.”

Sidanti tidak menunggu perintah gurunya itu diulangi. Segera ia bersiap melontar surut dan melepaskan diri dari daerah perkemahan itu.

Sumangkar yang melihat cara Tambak Wedi dan muridnya melepaskan diri mengumpat tak habis-habisnya. Katanya, “Pengecut. Kalian telah berani masuk ke dalam sarang srigala. Tetapi sifat-sifat kalian lari, meskipun alasan kalian tampaknya terlalu menyakinkan?”

Sidanti yang sudah agak jauh mendengar teriakan itu. Darah mudanya kembali menyala di dalam dadanya, sehingga tiba-tiba ia berhenti sambil menyahut. “Ayo, kelinci-kelinci yang mengaku srigala, Inilah Sidanti.”

“Jangan hiraukan,” teriak gurunya, “kalau kau bertempur lagi Sidanti, mungkin kau akan terpaksa membunuh lawan-lawanmu. Dengan demikian di antara kita akan timbul persoalan-persoalan yang sulit kita lupakan. Tinggalkan tempat ini.”

Sidanti menggeram ketika ia mendengar Sumangkar tertawa. “Bagus. Apapun alasanmu, tetapi kami di sini akan mendapat kesan atas nilai-nilai pribadi Tambak Wedi dan muridnya.”

Tambak Wedi-lah yang menyahut kata-kata itu. “Suatu ketika kau akan berkata lain, Sumangkar.”

Sumangkar tidak menjawab. Tetapi ia menyerang terus dan bahkan terdengar ia meneriakkan aba-aba. “Jangan lepaskan Sidanti. Ia akan kembali dengan dendam di dalam hatinya. Jangan biarkan ia dapat melepaskan diri.”

“Jangan hiraukan, Sidanti,” teriak Tambak Wedi.

Betapapun juga, namun Sidanti dapat mengerti perintah gurunya. Karena itu, meskipun darah di dalam jantungnya serasa menyala, namun ia terpaksa meninggalkan pertempuran itu.

Demikian Sidanti menghilang, maka demikian pula Tambak Wedi melontarkan dirinya, menghindari serangan-serangan Sumangkar yang datang bertubi-tubi. Sekali ia melawan namun di saat-saat lain ia meloncat surut, semakin lama semakin jauh, tetapi Sumangkar masih belum melepasnya.

Namun ternyata Tambak Wedi yang sebenarnya tidak kalah dari Sumangkar itu, berhasil pula melepaskan dirinya. Dengan menyusup ke dalam gerumbul-gerumbul liar di sekitar tempat itu, ia dapat menghindari serangan-serangan dan kejaran Sumangkar.

Sumangkar menggeram marah sekali. Terdengar ia berteriak di antara kawan-kawannya, “Ayo, kenapa  kalian hanya berdiri terpaku seperti nonton pacuan kuda? Kepung setan itu.”

Tetapi betapapun usahanya, namun Tambak Wedi benar-benar berhasil lolos dari mereka, seolah-olah mampu menghilang. Namun di kejauhan terdengar suaranya melingkar-lingkar di dalam hutan. “Sumangkar, suatu ketika kau akan menyesal.”

“Setan!” sahut Sumangkar dengan suara yang keras, “sekarang kami siap menunggumu.”

Tetapi Tambak Wedi itupun lenyap dari antara mereka.

Meskipun demikian, meskipun Tambak Wedi tidak berhasil mempengaruhi orang-orang Jipang pada saat itu, namun ia telah berhasil melontarkan tawarannya. Ia telah berhasil menyatakan perbandingan antara diri mereka dengan Macan Kepatihan. Sehingga bagaimanapun juga, Tambak Wedi yakin bahwa di saat-saat mereka duduk termenung, tawarannya akan berkumandang kembali di dalam hati mereka. Dengan demikian, Tambak Wedi itu telah berhasil meletakkan sebuah persoalan di dalam hati prajurit-prajurit Jipang yang sedang mengalami kesulitan lahir dan hatin.

Tetapi yang mula-mula menggoncangkan hati anak-anak Jipang itu adalah Sumangkar itu sendiri. Juru masak yang malas itu telah menimbulkan berbagai pertanyaan di dalam hati setiap orang yang telah melihat apa saja yang telah dilakukannya. Apalagi Tundun, yang kini berdiri membeku. Sekali-sekali mulutnya menyeringai karena sengatan rasa sakit pada tangannya. Ketika ia melihat Tambak Wedi yang ganas itu melarikan dirinya, maka hatinya benar-benar bergelora. Ia tidak menyangka bahwa juru masak itu berhasil mengusir Tambak Wedi yang menakutkan di seluruh wilayah lereng Gunung Merapi itu. Namun setelah itu, setelah Tambak Wedi tidak nampak lagi di mata mereka, timbullah kecemasan dan ketakutan yang lain di dada Tundun itu. Betapa Sumangkar akan membalasnya. Ia pasti tidak akan mampu berbuat apa-apa, seperti ia tidak akan mampu melawan Tambak Wedi.

Karena itu, maka kemudian dipandangnya Sumangkar itu dengan gelora di dalam dirinya.

Apakah yang akan dilakukannya?” katanya dalam hati. Aneh. Orang itu adalah orang yang aneh. Apakah ada setan yang manjing ke dalam dirinya?

Sumangkar sendiri kemudian berdiri kaku di tempatnya. Ia menjadi sangat kecewa atas lenyapnya Tambak Wedi dan Sidanti. Kedua orang itu tidak kalah berbahayanya daripada pasukan Pajang di Sangkal Putung bagi Macan Kepatihan dan pasukannya. Mungkin suatu saat Macan Kepatihan akan kehilangan kewibawaannya atas anak buahnya karena pokal Tambak Wedi itu. Mungkin anak buahnya satu demi satu akan menghilang dan menggabungkan diri dengan Hantu Lereng Merapi itu. Dengan demikian persoalannya akan menjadi semakin sulit. Macan Kepatihan harus menghadapi persoalan baru yang tidak kalah rumitnya dengan persoalan-persoalan yang telah ada, apalagi hal itu pasti akan langsung menyentuh harga diri Macan Kepatihan itu.

Sedangkan apabila Macan Kepatihan menerima kehadiran mereka di dalam lingkungannya, maka keadaannya sama sekali tidak akan bertambah baik. Hubungan antara pasukan Jipang dengan Pajang pasti akan bertambah buruk. Pertentangan akan semakin menyala dan membakar rakyat Jipang dan Pajang sendiri. Kematian dan bencana akan menjadi semakin bertambah-tambah. Sedangkan tujuan terakhir dari perlawanan itu sama sekali tidak akan dapat diharapkan. Pajang tidak saja berisi Untara, Widura dan anak buahnya di Sangkal Putung. Tetapi Pajang memiliki panglima-panglima yang mumpuni. Ki Gede Pamanahan adalah lambang dari kekuatan Wira Tamtama Pajang, dan puteranya Loring Pasar adalah kekuatan yang tidak ada taranya di antara angkatan mudanya.

Sesaat Sumangkar itu tenggelam dalam anganangannya. Tetapi kemudian disadarinya, bahwa di sekitarnya masih berdiri para prajurit Jipang. Bahkan mereka yang lukapun masih belum mendapat perawatan sama sekali.

He, kenapa kalian menjadi bingung, katanya kemudian. “Lihat kawankawanmu yang luka. Nah, tolonglah dan obati mereka.

Beberapa orang tersadar dari kekagumannya. Segera mereka mencoba merawat kawankawan mereka dan membawa mereka kembali ke perkemahan. Tetapi ketika seseorang mengajak Bajang kembali, terdengar Bajang menjawab, Aku masih mampu berjalan sendiri.

Tetapi sepeninggal kawannya itu, Bajang berjalan perlahanlahan mendekati Sumangkar. Dengan hormatnya ia mengangguk sambil berkata, Maafkan aku. Bagaimana aku harus bersikap setelah aku melihat apa yang telah kau lakukan.

Oh, seru Sumangkar, aku tidak menuntut perubahan sikap kalian terhadapku. Aku tetap seorang juru masak.

Hem, desah Bajang, alangkah bodohnya aku. Kenapa aku tidak melihat keadaan ini sebelumnya. Kenapa aku tidak tahu siapakah sebenarnya Sumangkar itu.

Jangan ribut, sahut Sumangkar. Kembalilah dan pelihara lukamu. Mungkin Sidanti dan Tambak Wedi akan datang di saat-saat lain.

Kembali Bajang mengangguk hormat. Kemudian ia melangkah pergi meninggalkan Sumangkar yang masih berdiri di tempatnya.

Yang tinggal kemudian adalah Tundun sendiri. Dengan cemas ia melihat Sumangkar masih menggenggam pedangnya. Orang tua itu masih belum meninggalkan tempatnya dan bahkan kemudian perlahanlahan melangkah mendekatinya.

Kenapa kau masih berdiri disitu? terdengar orang tua itu bertanya.

Tundun itupun kemudian menjawab dengan gemetar, Tidak, tidak.

Apa yang tidak? bertanya Sumangkar pula.

Tundun menjadi bingung. Ia tidak tahu, bagaimana menjawab pertanyaan itu.

Perlahan-lahan Sumangkar datang kepadanya sambil berkata, Kenapa kau tidak kembali ke perkemahan?

Ya, ya, sahut Tundun terbata-bata, aku akan kembali.

Nah kembalilah, berkata Sumangkar pula.

Tundun memandang Sumangkar tanpa berkedip. Terasa tengkuknya meremang, seakanakan Sumangkar itu telah mencengkamnya dan dengan penuh kemarahan membantingnya jatuh di tanah.

Tetapi Sumangkar masih tegak. Bahkan kembali ia mendengar suaranya. Marilah kita kembali bersama-sama.

Seperti orang kehilangan kesadaran ketika Tundun melihat Sumangkar berjalan mendahului, iapun berjalan pula di belakangnya dengan kepala tunduk. Hanya sekalisekali terasa sakit di tangannya masih menyengatnyengat. Tetapi ia sama sekali tidak berani mengeluh. Bahkan ia terkejut ketika tiba-tiba Sumangkar berkata, “Apakah tanganmu masih sakit?

Sesaat Tundun menjadi bingung. Namun  kemudian ia menjawab, Tidak. Sudah tidak sakit.

Mendengar jawaban itu Sumangkar berhenti. Ketika ia berpaling, dilihatnya tangan kiri Tundun merabaraba tangan kanannya. Dan Tundun pun terkejut pula. Tergagapgagap ia berkata, Masih. Tanganku masih sakit.

Sumangkar tersenyum. Ia masih menggenggam pedang Tundun. Karena itu maka katanya sambil menyerahkan pedang itu, Inilah pedangmu.

Tundun memandang Sumangkar seperti memandang hantu sehingga Sumangkar tertawa karenanya. Jangan cemas, aku tidak apa-apa.

Kata-kata Sumangkar itu seolaholah telah mengembalikan segenap kesadaran Tundun. Tiba-tiba ia merasa betapa besar kesalahan yang telah dilakukan atas orang tua itu sehari ini. Sehingga sampai pada puncak kebodohannya mencoba membunuhnya. Karena itu tiba-tiba Tundun itu berjongkok di hadapan Sumangkar sambil berkata, Maafkan aku. Maafkan aku. Aku tidak tahu siapa sebenarnya Tuan.

E, e, Sumangkar terkejut melihat sikap itu. Dengan serta merta ditariknya lengan Tundun. Berdirilah, aku bukan orang berpangkat di sini. Aku adalah seorang juru masak.

Tetapi apa yang Tuan lakukan telah benarbenar mengejutkan. Tuan telah berhasil mengusir Ki Tambak Wedi.

Bukan aku seorang diri, jawab Sumangkar, tetapi bersama-sama.

Tetapi aku telah berani mencoba membunuh Tuan.

Jangan sebut-sebut itu lagi. Lupakanlah. Namun hal ini dapat kau jadikan pelajaran, bahwa kau harus lebih banyak mempergunakan otakmu daripada tenaga dan perasaanmu.

“Baik Tuan.”

“Jangan panggil aku tuan.”

Tundun tidak menyahut, tetapi ia hanya mengangguk saja.

“Nab, kembalilah dahulu,” berkata Sumangkar, “rusa panggang itu telah masak.”

“Bukan untukku,” sahut Tundun.

Kembali Sumangkar tertawa. Dipandanginya saja kemudian, ketika Tundun itu meninggalkannya kembali ke perkemahan. Sekali-sekali ia masih meraba- raba tangannya yang seakan-akan terkilir. la hanya merasakan sebuah tangkapan pada pergelangan tangannya. Dan yang diketahui kemudian pedangnya terlepas dan berpindah ke tangan Sumangkar, sedang dirinya sendiri terdorong beberapa langkah ke samping.

“Benar-benar di luar dugaanku,” keluh Tundun.

Sepeninggal Tundun, Sumangkar berdiri seorang diri dalam terik cahaya matahari yang menyusup di antara celah-celah dedaunan. Sekali-sekali ia memandangi matahari itu. Dan setiap kali ia bergumam dengan lirih, “Apa yang terjadi di pertempuran itu?”

Kedatangan Tambak Wedi dan Sidanti telah menambah hati orang tua itu menjadi gelisah. Ia tidak sampai hati melihat Ma­can Kepatihan kehilangan kewibawaannya, kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri, sebagai penerus keturunan ilmu Kedung Jati. Tetapi ia sebenarnya tidak bisa melihat perkembangan yang semakin suram dari murid saudara seperguruannya itu dalam perjuangannya. Sebenarnya Sumangkar tidak dapat menyetujui seluruh apa yang dilakukan oleh Tohpati. Tetapi ia tidak dapat mencegahnya. Ia tidak dapat berbuat lain daripada apa yang dilakukannya sampai saat terakhir. Justru karena Tohpati tahu, bahwa ia tidak sependapat dalam beberapa hal, maka diletakkannya Sumangkar di sudut- sudut perkemahan, di tepi-tepi perapian, seperti kesenangannya sendiri. Memasak.

“Saat ini anak itu sedang berjuang melawan maut,” desis Sumangkar itu sambil sekali lagi menatap matahari, “mudah-mudahan ia selamat.”

Namun hatinya berdesir mengenang pertempuran kali ini. Pertempuran yang menurut kata-kata Macan Kepatihan sendiri, adalah ­pertempuran terakhir?

Kenapa terakhir?” gumamnya.

Sumangkar kemudian berjalan menepi. Perlahan-lahan diletakkannya tubuhnya di bawah rindangnya pohon Benda. Sekali-sekali dikenang­nya wajah Tambak Wedi yang bengis dan sekali dibayangkannya wajah-wajah yang tegang di medan peperangan sangkal Putung.

Keduanya merupakan bahaya,” desisnya, “kenapa aku tidak diperbolehkannya ikut serta.” Sumangkar itu berkata kepa­da diri sendiri. “Tetapi kalau aku pergi, maka perkemahan ini pasti akan menjadi ajang pengaruh Tambak Wedi itu. Mung­kin Tundun dan kawan-kawannya telah pergi meninggalkan Macan Kepatihan. Dengan demikian, maka perkemahan ini akan menjadi kosong. Nanti apabila laskar itu datang kembali, maka mereka akan menjadi semakin parah. Parah karena pertempuran itu, dan parah karena mereka datang di tempat yang kosong. Tanpa pe­nyambutan, tanpa makanan. Alangkah sedihnya Macan Kepatihan. Apalagi kalau usahanya kali ini untuk merebut sangkal Putung tidak berhasil.”

 

 

ADBM 11(09)

August 29, 2008

Tundun terhenti. Kembali dadanya berdesir. Kata-kata Sumangkar yang terakhir telah benar-benar menggugah kesadarannya. Namun ketika sekali lagi dilihatnya Ki Tambak Wedi ia menyahut, “Adalah salahmu sendiri Sumangkar. Kau ternyata ikut campur dalam persoalan yang hampir dapat aku selesaikan dengan caraku. Tetapi karena kelancanganmu, maka persoalannya menjadi panas kembali. Dan nyawamu akan dapat menjadi tebusan dari sekian banyak orang. Karena itu bersedialah untuk mati.”

“Baik Tundun, aku bersedia untuk mati. Tetapi biarlah Ki Tambak Wedi sendirilah yang membunuh Sumangkar. Itu kalau ada keberanian padanya. Sebab Tambak Wedi sudah mengenal siapakah Sumangkar itu. Tetapi aku tidak akan bersedia mati karena pedang kawan sendiri.” Kemudian kepada Tambak Wedi ia berkata, “Kakang, jangan mengharap akan timbul perkelahian di antara kita. Kau tahu, bahwa Tundun tidak akan dapat membunuh Sumangkar, dan kau tahu, bahwa apabila dikehendaki Sumangkar akan mampu membunuh semua orang Jipang yang bertugas di sini sekaligus seperti apa yang akan dilakukan oleh Tambak Wedi. Tetapi kalau lidahmu barhasil mengadu kekuatan di antara kami, maka aku dapat menghindari, melarikan diri dari tempat ini tanpa seorangpun yang dapat menangkapnya. Kaupun tidak.”

Dada setiap orang yang mendengar kata-kata itu berdesir. Namun Tundun yang lebih mementingkan keselamatan diri dan kawannya, dan sejak semula menganggap Sumangkar tidak berguna itu, agaknya lebih baik mengorbankanya. Dengan marah ia mendengar seakan-akan kata-kata Sumangkar itu sebagai kicauan burung yang memuakkan. Karena itu tiba-tiba ia meloncat dan menusuk punggung Sumangkar dari belakang. Geraknya cepat seperti kilat meloncat di langit. Kawan-kawannya yang melihat loncatan itu terkejut. Apalagi seorang yang bernama Bajang. Tardengar ia bertariak nyaring, “Kau gila Tundun. Aku sudah terluka. Kau sekarang ingin mengorbankan kawan sendiri. Ayo, biarlah aku jadi banten. Aku akan mati bersama Sumangkar.”

Tetapi suara itu tak didengar oleh Tundun. Ia sama sekali tidak mengurungkan niatnya. Bahkan loncatannya dipercepatnya sebab ia melihat Bajang bergerak untuk mencegahnya.

Kawan-kawannya yang lain berdiri saja seperti patung. Tak seorangpun yang mampu mencegah atau membenarkan tindakan Tundun dan Bajang. Mereka benar-benar dicengkam oleh kebingungan dan kekaburan pikiran. Mereka menganggap kata-kata Tundun dan tindakannya itu dapat menyelamatkan mereka, tetapi perasaan mereka hampir tidak rela melihat Sumangkar dikorbankan tanpa belas kasihan. Betapapun juga Sumangkar telah berada di dalam lingkungan mereka, sejak mereka meninggalkan Jipang.

Tetapi Bajang yang berdiri agak jauh itu terlambat. Tundun telah berhasil mencapai Sumangkar dengan ujung pedangnya yang langsung mengarah punggung.

Beberapa orang yang tidak sampai melihat pembunuhan itu memejamkan matanya. Bajang sendiri langkahnya terhenti. Sesaat ia tertegun, namun kemudian ia memalingkan wajahnya sambil berteriak, “Gila kau Tundun. Aku kelak yang akan membunuhmu.”

Tetapi alangkah dahsyatnya goncangan perasaan mereka saat itu. Seakan-akan darah mereka membeku dan nafas mereka terhenti mengalir. Yang mereka lihat kemudian sama sekali bukan Sumangkar yang jatuh tersungkur dan menyemburkan darah dari Iuka di punggungnya. Tetapi yang mereka lihat, Tundun terdorong beberapa langkah ke samping dan mereka melihat Sumangkar itu berdiri dengan garangnya dengan pedang di tangannya.

Belum lagi gelora di dada mereka berhenti, terdengar Sumangkar berkata, “Terima kasih Tundun. Ternyata kau baik hati. Kau telah memberi aku senjata untuk mengusir Tambak Wedi yang tamak ini.”

Yang paling terkejut atas peristiwa itu adalah Tundun sendiri. Ketika ia meloncat menusuk punggung Sumangkar, maka ia sudah pasti bahwa pedangnja akan menghunjam sampai ke jantung. Meskipun di dalam dadanya, merayap juga keraguan-raguan dan kekhawatiran, bahwa Macan Kepatihan akan marah  kepadanja, serta bagaimanapun juga ada rasa kasihan kepada orang tua itu, namun hasratnya untuk hidup telah memaksanya melakukan tindakan itu, dan ia akan dapat mengatakan berbagai alasan kelak kepada Macan Kepatihan.

Tetapi tanpa disangka-sangka, maka terasa bahwa pedangnya tergetar. Bukan karena ujungnya menyobek kulit orang tua itu, tetapi, ia melihat, orang tua itu bergeser cepat sekali ke samping. Pedangnya berlari tidak lebih dari tebal jari tangannya di samping tubuh juru masak yang malas itu. Namun sasaat kemudian dunianya seakan-akan berguncang. Ia sendiri terdorong ke samping oleh kekuatan yang dahsyat dan tangannya terasa nyeri bukan buatan, sehingga tanganya itu terasa lumpuh. Ketika ia menyadari keadaannya, pedangnya telah terlepas dari tangannya berpindah ke tangan Sumangkar, juru masak yang memuakkannya.

Sesaat Tundun membeku di tempatnya. Tangannya masih terasa sakit bukan buatan di pergelangan. Bahkan Tundun itu menjadi cemas bahwa tangannya menjadi retak, dan cacat di tubuhnya bertambah-tambah lagi.

“Menepilah anak manis,” berkata Sumangkar itu, “jangan turut mencampuri urusan orang tua-tua.”

Tundun memandangnya dengan pandangan yang bergejolak. Matanya memancarkan beribu macam perasaan yang aneh di dalam dirinya, yang justru telah mendorongnya ke dalam suatu keadaan yang tak dikenalnya. Sumangkar itu telah membingungkannya.

Tetapi Tambak Wedi dan Sidanti sama sekali tidak terkejut melihat peristiwa itu. Mereka sudah mengetahui, bahwa akan demikianlah akhirnya. Tetapi mereka mengharap, bahwa kawan-kawan Tundun akan membela pemimpinnya itu dan bersama-sama menyerang Sumangkar. Dengan demikian maka ia dengan bebas dapat membunuh Sumangkar bersama muridnya tanpa gangguan apapun, meskipun orang-orang Jipang itu sama sekali tidak akan berarti.

Tetapi keadaan itu berkembang menurut iramanya sendiri. Sumangkar yang telah menggenggam pedang di tangannya cepat-cepat berteriak sebelum Ki Tambak Wedi berhasil mempengaruhi suasana. “Nah, orang-orang Jipang. Sekarang, apakah kalian akan berdiam diri? Apakah kalian akan mengikuti perbuatan Tundun membunuhku? Dengar. Kalian bersama-sama telah dapat mengalahkan, setidak-tidaknya membuat murid Tambak Wedi itu tidak berdaya. Apakah kalian tidak berbangka karenanya. Murid Tambak Wedi yang menakutkan itu dapat kalian kalahkan. Sekarang, meskipun Tundun tidak akan mampu ikut berkelahi, namun kalian masih cukup kekuatan untuk mengulangi kemenangan itu. Sedang Tambak Wedi, serahkanlah kepadaku. Kalau aku tidak mampu memancung kepalanya, biarlah kepalaku yang kalian pancung di hadapan Tambak Wedi.

Bukan main besar pengaruh kata-kata Sumangkar itu. Yang pertama-tama menyadari kedudukannya adalah Bajang. Dengan sigapnya ia meloncat maju sambil berkata, “Aku telah dilukainya. Kini aku akan membalasnya.”

“Bagus Bajang, kesempatan itu akan datang. Bagaimana yang lain. Apakah kalian lebih senang melihat kawan sendiri terbunuh, atau kalian ingin melihat kita bersama-sama melakukan kewajiban dengan baik?”

Apa yang terjadi telah benar-benar menggerakkan hati prajurit-prajurit Jipang itu. Ketika mereka kemudian melihat Bajang yang telah melelehkan darah itu bergerak, maka serentak merekapun bergerak pula. Tanpa disadari, maka lingkaran di sekitar Tambak Wedi dan Sidanti telah pulih kembali. Kedua orang itu kini berdada di tengah-tengah kepungan.

“Gila,” geram Tambak Wedi, “ternyata kalian telah sekarat.

“Setiap prajurit menyadari, bahwa kemungkinan itu dapat terjadi. Mati di peperangan. Tetapi bukan mati karena pedang kawan sendiri,” sahut Sumangkar.

“Persetan! Aku akan menunjukkan bahwa Tambak Wedi tidak dapat dilawan oleh siapapun juga.”

“Sumangkar adalah salah satu perkecualian,” sahut Sumangkar ­lantang.

Sidanti ternyata tidak dapat mengekang dirinya lagi. Tiba-tiba ia memutar pedangnya, dan dengan derasnya pedang  itu menyambar kepala Sumangkar.

Yang melihat gerakan itu berdesir. Gerak itu terlampau cepat. Jauh lebih cepat dari yang dilakukan oleh Tundun. Karena itu, maka terdengar desis tertahan. Seakan-akan mereka pasti bahwa kepala Sumangkar akan terpangkas.

Tetapi sekali lagi mereka menjadi heran. Ternyata Sumangkar mampu menghindari serangan. Dengan cepat pula ia berhasil merendahkan dirinya dan melontar ke samping. Bahkan dengan satu gerakan yang lebih cepat dari gerakan Sidanti, Sumangkar berhasil memukul pedang anak muda itu. Demikian keras dan dahsyatnya sehingga pedang itu terpental, lepas dari genggaman dan jatuh beberapa langkah.

Tambak Wedi yang melihat peristiwa itu menggeram marah sekali. Ia sudah tentu tidak akan membiarkan muridnya terbunuh di hadapan hidungnya. Cepat seperti petir yang meloncat di langit, Tambak Wedi menyerang Sumangkar. Di tangannya telah tergenggam sepasang gelang yang melindungi tangannya, sekaligus merupakan senjata yang berbahaya pula. Sentuhan dari gelang itu akan dapat memecahkan tulang-tulang kepala dan merontokkan iga.

Seandainya Tohpati ada di tempat itu dan bertempur berpasangan bersama Sumangkar, maka Sidanti sudah tidak akan dapat keluar lingkaran pertempuran itu dengan tubuhnya. Tohpati pasti akan dapat menyesuaikan dirinya, selagi pedang Sidanti itu terjatuh. Sebab Sumangkar telah langsung melawan Tambak Wedi dengan sekuat tenaganya, sehingga Tambak Wedi tidak sempat untuk menolong muridnya itu. Tetapi kali ini yang ada di sekitar perkelahian itu adalah prajurit-prajurit Jipang yang berdiri keheranan. Mereka baru menyadari keadaan itu ketika Sidanti telah berhasil memungut pedangnya kembali dan siap bertempur melawan mereka itu.

Sumangkar yang melihat Sidanti telah berhasil menguasai dirinya kembali menjadi kecewa. Karena itu segera ia berteriak, “He, anak-anak Jipang yang berani. Kenapa kalian berdiri saja seperti tonggak. Ayo, selesaikan tugasmu.”

Suara Sumangkar itu seolah-olah jatuhnya sebuah perintah dari seorang panglima yang mereka segani. Serentak mereka berloncatan yang menyerang sejadi-jadinya. Tetapi Sidanti pun telah bersiap pula. Karena itu, demikian serangan itu datang, maka dengan sekuat tenaganya, serangan itu dilawannya. Dengan lincahnya ia menari-nari di antara ujung-ujung senjata lawannya. Namun lawannya ternyata terlalu banyak, sehingga dengan seluruh kekuatan dan kecakapannya ia harus mempertahankan dirinya. Tetapi terasa jari-jari tangannya menjadi nyeri karena senjatanya beradu dengan senjata Sumangkar sampai terlepas, sehingga betapapun kecilnya berpengaruh juga atas kelincahan tangannya.

Tambak Wedi yang melihat keadaan muridnya menjadi cemas. Sidanti ternyata mengalami tekanan-tekanan yang berat. Sedang dirinya sendiri terikat pada lawannya yang menyerangnya seperti orang yang sedang mabuk, meskipun pasti tak akan dapat menjatuhkannya.

Sumangkar memang berjuang dengan sepenuh tenaga. Diperasnya segenap kemampuan dan kekuatannya. Menurut perhitungannya, seandainya ia akan kehabisan tenaga, namun Sidanti akan lebih dahulu runtuh daripadanya, sebab betapapun saktinya anak muda itu, tetapi melawan prajurit-prajurit Jipang yang sekian banyaknya adalah pekerjaan yang mustahil dapat dilakukannya.

Tambak Wedi yang telah menyimpan pengalaman yang banyak sekali di dalam dirinya melihat pula keadaan itu. Setidak-tidaknya ia mengerti apa yang dikehendaki oleh Sumangkar. Namun sebagai seorang yang sakti, segera ia dapat mengerti pula, bahwa sebenarnya muridnya akan banyak mengalami kesulitan, sedang dirinya sendiri tidak akan dapat segera memberinya pertolongan.

Sumangkar ini benar-benar gila,” desahnya di dalam hati. Karena itu segera ia mencari cara untuk melepaskan diri dari keadaan yang mengkhawatirkan itu.

Tiba-tiba dalam keriuhan pertempuran terdengar Tambak Wedi menggeram. “Sidanti jangan kau lukai lawan-lawanmu. Jangan kau sakiti hatinya. Meskipun Sumangkar yang gila ini merusakkan rencana kita, namun aku masih tetap dalam pendirianku. Kami harus membuka pintu untuk menolong anak-anak yang malang ini.”

Sidanti tidak segera mengerti maksud gurunya. Bahkan ia mengumpat-umpat di dalam hatinya. Beberapa kali terasa ujung-ujung senjata lawannya telah menyentuh pakaiannya, dan bahkan beberapa kali terasa goresan pada kulitnya, namun kenapa gurunya masih melarangnya untuk melukai lawannya.

Dan terdengar kembali suara Tambak Wedi. “Sidanti, bukankah maksud kita kali ini hanya segera memperkenalkan diri. Nah kini pekerjaan kita sudah selesai. Marilah kita tinggalkan perkemahan ini.”

Barulah Sidanti menyadari maksud gurunya. Betapapun kemarahan meluap di hatinya, tetapi ia harus mengakui pula keadaannya. Ia harus menyadari bahwa ia tidak akan mampu melawan orang-orang Jipang itu sekaligus, apalagi jari-jari tangannya kini terasa menjadi nyeri.

Dalam pada itu terdengar kembali suara gurunya. “Nah, Sidanti lepaskanlah lawan-lawanmu. Biarlah mereka tetap dalam keadaannya. Kita akan tetap menanti kedatangan mereka di padukuhan kita atau di tempat asalmu kelak apabila perlu.”

Sidanti tahu benar akan kesulitannya sendiri. Alasan gurunya mengorbankan harga dirinya. Karena itu, tiba-tiba ia meloncat dengan memberinya kesempatan meninggalkan pertempuran itu dengan lincahnya, memutar senjata untuk menerobos lawan-lawannya yang selalu berusaha untuk mengepungnya. Geraknya benar-benar cepat tidak terduga, sehingga sesaat kemudian Sidanti telah berhasil keluar dari lingkungan pertempuran.

Dengan tangkasnya kemudian Sidanti menghindari setiap sergapan sambil melangkah surut. “Aku sudah bebas guru,” katanya sambil terus-menerus mengundurkan dirinya sambil melawan dan berusaha untuk tidak masuk ke dalam kepungan.

 

 

 

ADBM 11(08)

August 28, 2008

Tundun dan kawan-kawannya masih belum dapat mengerti dengan pasti maksud Tambak Wedi itu. Beberapa orang di antara mereka saling berpandangan dan bertanya-tanya di dalam hati.

Ki Tambak Wedi yang melihat kebingungan itu berusaha untuk menjelaskan. “Kisanak. Kalian menurut tangkapanku, adalah prajurit-prajurit yang baik. Prajurit-prajurit yang setia pada cita-cita. Bukan sekedar prajurit yang bertempur tanpa arah, selain untuk membunuh atau dibunuh. Karena itulah maka kalian tetap berada dalam lingkungan Macan Kepatihan. Tetapi aku ingin mengatakan, bahwa Macan Kepatihan dengan caranya sekarang tidak akan dapat memenangkan perjuangannya. Sedang tawaran kami untuk membantunya telah ditolaknya. Nah, kalau kalian memang setia kepada cita-cita kalian, menolak kekuasaan Pajang, maka kalian dapat mempertimbangkan antara Macan Kepatihan dan Sidanti. Macan Kepatihan yang telah kehilangan landasan perjuangannya dan Sidanti yang baru muIai dengan tekad yang masih segar. KeIebihan Sidanti yang lain adalah, Sidanti berkuasa di lereng Gunung Merapi. Suatu daerah yang cukup luas untuk membangun kekuatan dam benteng pertahanan. Dan ia berkuasa pula di suatu daerah yang luas di sebelah Alas Mentaok, Bukit Menoreh.”

Tundun dan kawan-kawannya kini baru menjadi jelas maksud Ki Tambak Wedi itu. Ternyata Ki Tambak Wedi telah menawarkan pilihan kepada para prajurit itu. Dan tawaran itu tenyata telah mempengaruhi perasaan mereka. Namun Tundun, seorang prajurit yang sudah lama menjadi bawahan Tohpati, sejak terjadi parselisihan antara Jipang dan Pajang, tidak akan segera dapat melepaskan ikatan itu. Karena itu maka jawabnya, “Ki Tambak Wedi. Tawaranmu bagus sekali. Tetapi jangan mencoba mempengaruhi kesetiaan kami kepada pimpinan kami. Kalau kau ingin menyatukan dirimu ke dalam lingkungan kami, maka mengharap, mudah-mudahan pimpinan kami dapat menerimanya. Tetapi kalau kau mencoba mempengaruhi kesetiaan kami itu, jangan mengharap.”

Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia tertawa. “Aku tahu, bahwa jawaban kalian akan berbunyi demikian. Memang aku mengharap kalian menjawab seperti yang diucapkan oleh pimpinan kalian ini. Kalau tidak demikian, maka kalian sama sekali tidak berharga. Bagi kamipun tidak. Tetapi karena kesetiaan itulah maka kalian baru dapat disebut seorang prajurit jang baik. Jawaban itu kalian ucapkan sebab kalian belum mempunyai kesempatan untuk berpikir. Kalau kalian belum sempat berpikir, tatapi segera mempercayai kata-kata orang lain, maka kalian adalah sampah jang tidak berarti. Tetapi kamipun tidak ingin mendengar jawaban kalian sekarang ini. Seperti aku katakan, jawaban yang akan aku dengar sudah aku ketahui. Namun aku mengharap kalian sempat memikirkan tawaran itu. Aku hanya ingin kalian memikirkan dan mempertimbangkan. Lain tidak.”

Tundun terdiam untuk sesaat. Ia menjadi heran kembali mendengar jawaban Tambak Wedi. Tetapi dengan demikian ia terpaksa untuk mencari sebab-ebabnya.

Yang terdengar kemudian adalah kata-kata Tambak Wedi itu kembali. “Meskipun seandainya, kami tidak dapat bertemu dalam pembicaraan, karena kesetiaan kalian terhadap pimpinan kalian, namun biarlah hubungan persaudaraan ini kita langsungkan. Kami akan selalu menunggu kalian di tempat kediaman kami. Dan dalam keadaan yang memuncak, muridku akan dapat membangun kekuasaan tandingan dari Pajang itu di daerah asalnya: di sebelah Barat Alas Mentaok. Daerah itu akan dapat dibukanya menjadi daerah yang akan dapat mangimbangi kekuasaan Pajang. Setidak-tidaknya di daerah Barat, dan Selatan.”

Tundun dan kawan-kawannya seolah-olah menjadi beku mendengar keterangan itu. Ki Tambak Wedi yang mempunyai pengamatan yang tajam, melihat bahwa kata-katanya bergolak di dalam hati para  prajurit Jipang itu. Maka katanya selanjutnya, “Nah. Bandingkan dengan hari depan Tohpati. Sidanti mempunyai kekuasaan atas suatu daerah. Meskipun daerah itu kini seakan-akan masih asing bagi kalian. Daerah yanq masih jarang-jarang diketemukan pedukuhan dan padesan. Tetapi di daerah itu dapat dibangun kekuasaan yang besar. Apalagi dengan bantuan prajurit-prajurit yang berpengalaman.”

Terasa sesuatu menyentuh hati para prajurit itu. Seakan-akan di hadapan mereka ditunjukkan oleh Ki Tambak Wedi, betapa suram hari depan mereka. Betapa suram hari depan Macan Kepatihan. Tetapi dengan suatu perubahan di dalam hidup mereka, maka hari depan merekapun akan dapat berubah pula.

Tiba-tiba merayap di dalam hati para prajurit itu pertanyaan, “Kenapa Tohpati menolak uluran tangan Ki Tambak Wedi?”

Tetapi pertanyaan itu disimpannya di dalam hati. Mereka kini seakan-akan telah menjadi patung yang hanya boleh mendengarkan Ki Tambak Wedi berbicara.  Katanya meneruskan, “Selanjutnya terserah kepada kalian. Tetapi aku telah memberikan perbandingan-perbandingan.”

Suasana di perkemahan itu kemudian menjadi sepi. Beberapa oranq berdiri tegak dengan senjata di tangan. Namun ujung-ujung senjata itu sudah terkulai di tanah. Mereka berdiri saja seperti patung mengerumuni dalam jarak yang tidak jauh, seorang tua namanya ditakuti karena kesaktiannya bersama seoreng muridnya yang garang.

Dalam suasana yang sepi itulah maka kata-kata Tambak Wedi seakan-akan meresap semakin dalam di hati para prajurit Jipang yang memang sudah terlalu lama mengalami kepahitan hidup di hutan-hutan dan pengembaraan sebagai orang-orang liar. Apabila mereka menemukan tempat yang baik, maka keadaan mereka pasti akan lebih baik. Seandainya mereka masih haruss berjuang untuk menghancurkan Pajang, maka landasan mereka akan Iebih kokoh.

Sejenak Ki Tambak Wedi pun berdiam diri pula. Dibiarkannya para prajurit Jipang itu mencernakan kata-katanya. Ia mengharap seandainya tidak sekarang, namun orang-orang itu pasti akan memperbincangkan kata-katanya denqan beberana orang kawan-kawannya. Semakin lama akan menjalar semakin luas di antara orang-orang Macan Kepatihan.

Tetapi kesepian itu kemudian dipecahkan oleh kehadiran seorang tua, juru masak Macan Kepatihan yang malas, Sumangkar; yang dengan terbata-bata berkata. “Tundun; Tunduu; rusa itu sudah masak. Apakah kau tidak mencium baunya? Aku bumbui rusa panggang itu dengan tanganku sendiri.”

Dalam suasana yang sepi tegang, kehadiran Sumangkar benar-benar mengejutkan. Apalagi sebelum ia sendiri hadir di tengah-tengah kesepian itu, suaranya telah lebih dahulu melengking di antara mereka. Sehingga ketika Sumangkar berlari-lari, maka beberapa orang telah berloncatan menyibak tanpa mereka kehendaki sendiri.

Tundun pun terperanjat pula. Ia melihat Sumangkar berIari-lari ke arahnja dan kemudian berdiri di hadapannja sambil terengah-engah.

“Gila!” teriak Tundun yang masih berdebar-debar karena terkejut.

 “Rusa itu sudah masak Tundun,” ulang Sumangkar.

“Gila. Aku sangka apa saja yang kau teriakkan itu. Apakah kau tidak melihat apa jang sedang terjadi di sini?”

Sumangkar terdiam sesaat. Dipandangnya beberapa orang yang berdiri di sekitarnya. Dan kemudian dipandanginya kedua orang yang berdiri di antara mereka. Guru dan murid.

Tetapi sebelum Sumangkar berkata-kata sepatah katapun, maka kembali terdengar Tundun membentak. “He orang tua yang bodoh. Coba lihat tangan-tangan kami masih menggenggam senjata. Dan keringat kami masih belum kering. Ayo, pergi. Atau kepalamu kami pangkas dengan pedang kami.”

“Jangan Tundun,” sahut Sumangkar. “Aku datang sekedar memberitahukan, bahwa apa yang harus kukerjakan sudah selesai. Rusa panggang. Dahulu Adipati Arya Penangsang gemar sekali akan rusa panggang  pula. Dahulu ketika Adipati Jipang itu masih berkuasa di Jipang.”

“Tutup mulutmu!” bentak Tundun.

Tetapi Sumangkar berbicara terus, seakan-akan ia tidak mendengar Tundun membentak-bentak dan tidak melihat kehadiran orang-orang di sekitarnya, orang-orang Jipang sendiri dan kedua orang asing itu. Katanja, “Tetapi sayang Adipati Jipang itu sudah tidak ada lagi. Dahulu Adipati Jipang tidak pernah melupakan rusa panggang dalam setiap perburuan. Pamanda Kepatihan, Mantahun pun senang sekali akan rusa panggang pula. Sayang, giginja telah hampir habis karena usianya, sehingga Patih Mantahun tidak dapat ikut menikmatinja.”

“He, orang gila,” potong Tundun berteriak keras sekali, “pergi dari sini sebelum aku bunuh kau.”

“Ternyata sekarang Macan Kepatihan, kemanakan Mantahun itu, gemar pula akan rusa panggang. Tetapi kasian Macan Kepatihan itu. Ia kini hidup seperti sehelai kapuk diterbangkan angin. Tidak mempunyai tempat landasan bagi perjuanganya. Dahulu Arya Jipang mempunjai landasan yang kuat. Satu Kadipaten Jipanq memihaknja, lengkap dengan seluruh pasukan Wira Tamtama dari Kadipaten itu. Jipanq adalah Kadipaten yang lengkap. Bukan sekedar padukuhan atau padesan yang masih harus dibangun, meskipun dibantu oleh prajurit-prajurit yang berpengalaman. Tetapi Jipang sudah besar sejak permulaan mengangkat senjata. Prajuritnja sudah lengkap di bawah pimpinan Patih Mantahun di samping Arya Penangsang sendiri. Dan kemudian dibantu oleh Raden Tohpati. Bukan suatu daerah asing di seberemg hutan belantara. Namun Jipang yang kuat itu dapat dipecahkan oleh kekuatan Pajang di bawah pimpinan Adipati Adiwijaja, yang bermama Mas Karebet semasa ia masih menjadi seorang anak gembala. Apalagi daerah-daerah terpencil, padukuhan dan padesan yang ringkih dan sepi.”

“Cukup!” tiba-tiba hutan itu tergetar  oleh suara Tambak Wedi yang marah bukan buatan. Ia tahu benar maksud kata-kata Sumangkar itu. Demikian marahnya, sehingga hantu dari lereng Gunung Merapi itu berteriak sekuat-kuatnya.

Semua orang yang berdiri memutarinya terkejut. Hampir saja mereka berloncatan menjauh. Tundun pun terkejut pula mendengar teriakan itu.

Bukan saja terkejut karena Tambak Wedi berteriak. Tetapi segera Tundun pun menjadi cemas melihat Tambak Wedi itu terbakar oleh kamarahan. Wajahnya merah dan sepasang matanya seolah-olah menyala seperti bara.

Kalau Tambak Wedi ini menjadi marah, dalam suasana yang telah menjadi tenang ini, dan membunuh kami sekalian, maka kami tidak akan dapat malawannya,” pikir Tundun. Karena itu maka segera ia menimpakan kesalahan itu kepada Sumangkar. Untuk mengurangi kemarahan Tambak Wedi, maka Tundun itupun berteriak pula. “He Sumangkar yang gila. Bukan orang Iain yang akan membunuhmu karena mulutmu yang lancang itu. Tetapi aku sendiri. Dengan pedangku dan tanganku, maka kepalamu akan aku pancung di muka kawan-kawanmu ini.”

Tetapi Sumangkar itu seolah-olah tidak mendengar suara Tundun dan Tambak Wedi. Dan Tundun itupun kemudian terkejut bukan buatan. Ketika ia melangkah setapak maju untuk menyingkirkan Sumangkar yang telah membangkitkan kemarahan Tambak Wedi yang menakutkan itu, tiba-tiba dihatnya Sumangkar memutar tubuhnja, membelakanginya dan menghadap Ki Tambak Wedi. Bahkan kemudian dilihatnja Sumangkar itu tersenjum sambil berkata, “Jangan marah Kakang Tambak Wedi. Jangan marah supaya kau tidak menjadi lekas tua.”

“Sumangkar,” teriak Tambak Wedi, “kehadiranmu di sini benar-benar mengejutkan aku. Kenapa kau tidak ikut pergi ke medan pertempuran Setan tua?”

Sumangkar menggeleng. “Tidak Kakang. Aku adalah seorang juru masak.”

“Tetapi kau kali ini benar-benar ingin merusak semua rencana yang sudah aku susun bersama muridku ini.”

Sumangkar tertawa. Sekali ia berpaling, dan dilihatnja Tundun berdiri ternganga di belakangnya. Alangkah pningnya kepala pemimpin prajurit pengawal perkemahan ini. Tiba-tiba saja ia melihat seolah-olah Sumangkar, juru masak yang malas itu telah mengenal dan dikenal olah Ki Tambak Wedi.

“Jangan heran Tundun,” berkata Sumangkar, “aku kini berjumpa dengan kawan bermain di waktu muda. Tatapi saying bahwa ia kini menjadi seorang guru yang ternama, dan aku menjadi seorang juru masak yang malas. Yang sehari ini selalu kau bentak-bentak saja.”

Namun kata-kata itu terputus oleh teriakan Ki Tambak Wedi. “Jangan mengigau. Apakah kehendakmu sebenanya?”

Mendengar teriakan Tambak Wedi itu, sekali lagi Sumangkar tersenyum. Dan sekali lagi ia berkata, “Jangan marah Kakang Tambak Wedi.”

“Persetan!” teriak Tambak Wadi. “Lihat, kalau kau masih saja berdiri di situ, aku bunuh kau dan prajurit-prajurit Jipang seluruhnya.”

Ancaman itu telah menyadarkan Tundun dari keheranannya. Kini kembali ia dicengkam oleh ketakutan. Dan sekali lagi Tunduu menimpakan kesalahan itu kepada Sumangkar, katanja, “He; juru masak yang malas. Untuk membebaskan kami dari kemarahan Ki Tambak Wedi, maka aku terpaksa membunuhmu.”

Kali ini Sumangkar terpaksa berpaling dan menjawab, “Jiangan Tundun. Jangan mengorbankan kawan sendiri untuk memuaskan orang Iain karena kau melihat kepentinganmu sendiri. Karena kau ingin kau dihidupi. Tentu aku tidak mau menjadi korban. Kalau kita menjadi korban bersama-sama, marilah, biarlah aku mati paling awal dari kalian. Tetapi kalau aku sendiri harus mati karena kalian ketakutan akan mati itu, nanti dulu.”

Tundun menggeram mendengar kata-kata itu. Terbersit di hatinya kebenaran kata-kata Sumangkar. Tetapi ketakutannya kepada Ki Tambak Wedi telah mengatasi segalanya, maka katanya, “Jangan banyak bicara. Kau tidak berarti di sini.”

“Kalau kau bunuh aku Tundun, Macan Kepatihan pasti akan marah. Aku adalah juru masak yang dibawanya sejak dari istana kepatihan. Tentu. Tentu kau belum mengenal aku, sebab saat-saat itu kau adalah seorang Wira Tamtama yang tidak bertugas di istana Kadipaten maupun di istana Kepatihan. Hanya orang-orang tua dan mereka yang bertugas di istana dan istana Kepatihan sajalah yang menganal Sumangkar. Di antaranya adalah Sanakeling. Dan Ki Tambak Wedi. Bukankah begitu Kakang?”

“Tutup mulutmu, Sumangkar! Lihat, kawanmu sudah siap akan membunuhmu,” sahut Ki Tambak Wedi, yang kemudian berkata kepada Tundun, “Kalau kau bunuh tikus tua itu, aku maafkan kalian.

Tundun yang lebih sayang kepada jiwanya sendiri menggeram. Selangkah ia maju dan pedangnya telah siap menusuk punggung Sumangkar. Tetapi ia mendengar Sumangkar berkata, “Cara yang baik untuk mengadu sesama kawan. Kini tinggallah kita sendiri, Tundun. Apakah kita ini sebangsa domba-domba yang siap untuk diadu, ataukah kita ini sebangsa prajurit yang setia kepada tugas dan pimpinan kami. Pilihlah olehmu Tundun.”